Bandung, Parisj Van Java

Posted in 15524358 on 16 Februari 2009 by Duddy Setiadi

Saya mengucapkan: “Selamat untuk angka baru 2009”
Monggoo…..

Tersebutlah pita trasport ‘Anyer-Panarukan’. Istilah populer sekarang: Pantura. Sejak dibentangkannya, jalan raya lintas provinsi itu hanya sedikit tambah lebar.

Belum lebih aman, terlebih nyaman. Yang pernah jatuh cinta disitu hanya seorang, namanya: Sheila Madjid, itupun hanya ‘Antara Anyer dan Jakarta’.

Di hinterland ada Bandung. Sebuah kota yang awalnya tidak dirancang menjadi metropolitan. Dulunya buat belajar. Dewi Sartika membuat ‘Sakola Kautamaan Istri’ , 1914.

Pengusaha kebon teh Belanda, bikin ITB, 1920, dan lain lain. Jalanan di kotanya kecil-kecil, banyak perempatan, dikit-dikit setopan.

Kota-kota satelit mengitarinya. Bandung pun administratively, telah dimekarkan lagi dan lagi. Pusat perbelanjaan dan keramaian di tiap wilayah ada, tapi radius Alun-Alun Bandung tetep mangrupa magnet yang diserbu saban hari.

Entah karena sarana dan moda angkutan yang komplit, atau hal lain. Tampaknya urusan pasar tidak mudah di-otda-kan.

Penduduknya punya laju beranak-pinak tinggi. ABG menyusui balita, banyak. Remaja menggendong orok sembari menuntun anaknya yang TK, ga kurang. Lihat saja di kantong-kantong padat pemukiman. Satu diantaranya seputar ST-3.

Di Sidoarjo, yang melimpah dan meruah ya jelas lumpur. Di Bandung naon? Budak leutik, lalu anak bulu kumu’ut sampe bujangan gumasep.

Orang tuanya memodali motor buat sekolah biar anak sigap. Eee….malah di preteli knalpotnya, katanya ngemodif. Demi berkontribusi pada kebisingan kota, dan membangun sifat teu boga ka era.

Yang nurus tunjung, eitt…jangan salah….Manusia dewasa pun tak kalah edun dan marak dibanding adik-adiknya.

Muffler gas buang yang built in nya ber-silencer itu, diboboknya. Padahal kan, makin halus bunyi kendaraan, makin ciamik.

Dulu ‘Berhiber’ sekarang ‘Bermartabat’. Itu baru slogannya. Meski lampu jalan banyak yang off kalo malem, termasuk di land mark nya, jalan layang Pasupati.

Pemkot, dprd, dan rengrengannya. Eksekutif, legislatif dan yudikatif. Telah sepakat, setali tiga uang. Untuk tetep niat, tekad, dan nekad menjadikan kota ini sebagai:’Tourist Destination’.

Bandung Parisj van Java. Di Paris ada Eiffel tower, di Bandung ada 800-an menara BTS, bisa imbanglah and wani keneh ngadu, so they don’t see why not.

Untungnya, para pelancong jarang liwat kolong fly-over Cimindi, dan Kircon. Langka seliweran di Tegallega dan ruas Ciroyom-Garuda.

Apalagi Kopo Sayati yang – masya Alloh – sisi jalannya nyaring oleh dentuman dan lengkingan dari demo dan promo dvd bajakan.

Seingat saya, dalam itungan 25-30 tahunan terakhir, belum beranjak dari keruwetan menjadi ketertiban.

Ok, beberapa hal diatas tidak hanya terjadi di Bandung. Di kota-kota Jabodetabek pun ada area-area serupa, si-kon nya sebelas dua belas.

Disini kita belum bicara mengenai tatanan yang seharusnya, sewajarnya, seyogyanya. Termasuk tepo seliro, dan norma umum.

Kita sedang bicara dari contoh day the day events di ruang public Bandung apa adanya, yang biasa membuat orang banyak tertekan.

Gagasan kota wisata, positif. Mengapa? Tourism mendatangkan devisa langsung. Demikian wisman landing, segera beli rupiah lantaran kudu naek taksi.

Kemudian dijalan lihat cengkir dan manggis, yang eye catching. Karena ga kuat nahan lagi, akhirnya beli deh. Pake rupiah.

Devisa dari pariwisata, langsung dinikmati oleh orang-orang grassroot macam kita. Kalo bukan ‘kita’ ya saya lah…

Tidak seperti devisa dari migas, kayu lapis, TPT dsb, yang muter-muter dulu. Sebagian pengusaha menggolangkan hasil ekspornya di S’pore, pan judulna ge ‘Sorga Bagi Para Investor’.

Demikian pula devisa yang diraih negara, pasti kukurilingan heula. Penyebab lambatnya adalah hal administrative dan birokrasi.

Jadi, devisa akan melalui banyak polisi tidur sebelum sampai pada yang berhak. Rakyat mah dari APBN ajah, melalui spending-nya.

Wisman avonturier kadang tak sungkan join ama wisdom. Jol-jol meuli cilok, cireng, cimol, gehu, bala-bala, pisang aroma atau cakue- nu bangsa urang mah, ngadaharna sok bari jeung cingogo tea.

Ada yang cuma nyicipin, ada yang jadi keranjingan. Si bule yang penasaran bilang:”Do what Indonesian do.”

Pelancong local bilang:”Ni dia kuliner Bandung.” Murah, asal wareg dan bebas maag. Pokoknya karbohidrat, sumber energy. Di NTB juga, kambing makan kardus hidup sehat penuh vitalitas.

Selanjutnya. Dagang tourism dipahami cash and carry. Sorry pada supplier obat yang sering ngutangin barang lantas riweuh dalam urusan Term of Payment.

Biasanya dalam kasus ga nyambungnya amount pembayaran dengan dollar hari ini. Rada-rada simalakama, ga ngasih, ya ga ngomset.

Bisa bo-cuan alias plus-plos, untung ipis, bo-hwat tapi demi jaga hopeng, bahkan bukannya untung malah jeblok.

Melalui tourism, sebagian rakyat jadi mengenal rupanya uang asing. Sering dijumpai mata uang asing sebagai bahan koleksi pribadi yang disimpan rapi, tanda mata persahabatan.

Tourism membuat masyarakat jadi dual, hingga multi culture. Ajang saling mengenal budaya dan nilai. Dalam frame antar diri maupun antar masyarakat.

Bisa dipake sarana latihan English atau bahasa asing lainnya dari native. Daripada ikut kursus mahal, sekurang-kurangnya ‘litel-litel mah ay ken’ lah.

Dalam hal tourism, Bandung atau Jabar masih belajar pada tahap awal, tidak seperti Bali yang sudah advance dan berkelas dunia.

Lepas dari controversy-nya, tourism dapat memicu upaya berbenah diri masyarakat dan individu. Jadi ‘dipaksa’ belajar terus, to make everything in-order.

Termasuk memfungsikan jembatan penyebrangan daripada hanya sekedar tempat nempelin billboard. Membudayakan penggunaan zebra cross yang tentu lebih murah, dan menambahnya.

Dulu taun 80-90an, kalo masuk Agustus di Bandung turis banyak sekali – pengertian turis disini tidak mesti bule lho.

Sekarang ko jarang. Analisa sebab-akibat yang resmi bukan urusan saya. Disini hanya memuat ungkapan saya saja.

Wisman, picnic kesini bukan untuk gogoleran in the hotel room. Night clubbing, reading, swimming, and f..king, selingan saja, bukan tujuan utama.

Mereka tidak hanya baca peta terus belanja barang-barang yang akan jadi sampah.
Keinginan mereka lebih pada exploring Bandung and it’s surrounding, masuk ke perkampungan, kebon dan sawahnya.

Kalo cape ya ngaso-nya nyeruput teh tubruk sambil makan beuleum ketan seperti di jalan Lembang-Ciater.

Demikian pula kita kalo bepergian ke mancanegara atau new places. Barang yang ada di pasar baru pan ga akan kita beli lagi disana. Back packer juga begitu.

Kalo situasinya seperti sekarang ya apa yang akan ditawarkan? Ke Saung Angklung Mang Udjo yang fenomenal saja di Padasuka-Caheum. Suasana jalan dalam route-nya meuni anjrit pisan.

Untuk 2 kawan saya (dari ST-3) yang naga-naganya, lagi ngincer posisi di legislative daerah. Issues diatas dapatlah kiranya dijadikan bahan buat koar-koar.

Ga canggih sih, berilah contoh pelan-pelan saja – supaya teu kaciri teuing harot-na. Coba ajak sodara-sodara kita untuk mengembangkan sikap sederhana seperti santun di ruang public.

Sekarang memang tampak omong kosong. Namun, suatu waktu ketika memutuskan untuk mewujudkan kata-kata menjadi perbuatan maka percayalah,

omong kosong akan berubah menjadi omongan berisi. Terlebih penting adalah peluang ente terpilih jadi anggota dewan, jadi lebih besar. Sok geura, bismillah.

Nominator

Posted in 15524358 on 16 Februari 2009 by Duddy Setiadi

Konon pada jaman colonial, rakyat
(Baca: Wong cilik) mendapat kesentosaan. Keadaan mantap, tertib.

Pun Bersih : Got, selokan,
pagar, semua disikat – bebas lumut. Rakyat merasa aman dalam
mencari makan sehari-hari. Urusan perut beres. No grande
problemos.

Orang dulu, generasi kakek buyut
mengatakan : Jaman normal. Dalam pandangan penjajah, rakyat
mendapat perlindungan hukum. Hukum colonial. Sifatnya feodal.

Hukum dan produk-produk nya
hari ini, tidak dikenal pada jaman raja-raja dulu. Bagi rakyat,
hukum jaman sekarang maupun jaman kerajaan, sama saja. Rada
atau Pro status-quo.

Hingga sekarang, rakyat, kalo lihat
aparat penegak hukum alias polisi. ‘Per’ di hatinya sering susut.
Sebisa-bisa gak berurusan dengan Polisi-lah.

Padahal mah cenah polisi teh ingin
‘Melayani dan Melindungi’.

Memang pada mulanya, polisi
hanya barisan partikelir di Spanyol untuk melindungi kepentingan orang-orang
kaya sekaligus pelaku dalam tata-kuasa.

Sejarah polisi berbeda sekali dari
sejarah tentara yang telah tua.

Selain itu, hukum, bahasa nya aneh,
jauh dari menarik. Tidak seperti bahasa dalam dongeng Wa Kepoh ato
dongeng Si Kundang anakna juragan Kurdi. Mudah dipahami.

Dalam hukum colonial, pembagian
kelas terang-benderang. Pribumi, jelas kekesed saja.
Dulu, ada kalimat di gerbang Salabintana Sukabumi, berbunyi : “Anjing dan
Pribumi Dilarang Masuk”. Hukum diskriminasi.

Belanda lihai bikin dam.
Urusan menghalang-halangi arus bertenaga besar dan mengarahkan energy itu agar
sesuai dengan kemaunannya, sudah jago.

Penerapannya di negeri jajahan
ketika itu, diantaranya, membendung informasi dari dunia luar agar susah
di-akses. Pokoknya inlander jangan pandai.

Konon lagi, sebagian besar manusia
penjajah yang datang kesini hanya petualang belaka.
Gorombolan terorganisir dari sampah masyarakat di Eropa, di Jepang, itu telah
dilatih untuk tegas dan dingin terhadap leluhur kita.

Apa daya. Sebagaimana para
leluhur. Kita pun keburu terkesima
dengan : Mata biru, hidung mancung, rambut ke-emasan.

Belum lagi : Tinggi
badan, kulit putih merona. Kompossisi
bass-treble suaranya pun ber-style.

Yang wanita : Bulu-bulu halus pirang
dilengannya, ah…. jadi pesona tersendiri.

Akhirnya rakyat cuma bilang :
Ya-ya-ya… bentuk pertimbangan batin yang memaksa untuk mengiyakan, padahal
belum yakin.

Kemudian mereka senyum :
He-he-he…Gotcha!! Mereka berhasil menggertak, ngegos,
nge-bluff. Lantas, dibelakang mereka terbahak …hahahaaaa….

Akhirnya,raja disini pun
didiktenya. Raja benguk.

Sejak dari penampilan saja,
Eropean telah diatas angin. Kita pun disini jadi ter-obsesi untuk
memiliki kulit putih secara harfiah, sampe sekarang.

Lihat saja iklan-iklan produk
perawatan kulit yang ditayangkan TV.

Juga pewarna rambut ; brunette,
gold, blond. Suntik ‘silicone’ di hidung, bibir, ato dagu.
Biar bangir dan sensual.

Ada pula yang meng-implant- nya
di susu-rayud biar tampak ranum kembali.

Kasian mereka, dalam hal ini wanita,
yang secara genetis telah berkulit coklat atau yang kebanyakan moyan.
Begitulah wanita, musuh bebuyutan umur.

Tidak seperti wong lanang, makin tua
makin menarik. Semakin tua, wajah, justru semakin ‘weather-beaten
look’.

Lanang, ibarat tanah, harganya naek
terus. Sedangkan wong wedo’, seperti mobil, tiap taun ada keluaran baru.

Sorry, tak ada maksud saya untuk
merendahkan wanita semodel kampanye negative dalam issue gender.

Korban paling mengenaskan malah si
Michael Jackson. Sungguh, dia sedang disiksa oleh
perbuatannya sendiri. Cian de loh…..

Ok, lanjut.. ah..can wareg….

Penghisapan kekayaan alam dari sini
pun lancar. Pribumi sebagai SDM super murah, harus membantu, mesti
mengabdi.

Tidak boleh mengganggu, jangan
banyak cing-cong. Pake kacamata kuda, membangkang = subversi.

Nampak, penghisapan itu belum
berakhir. Mesinnya beda : Non-fisik, lebih halus. Pendidikan saja
tak cukup mampu menemukan urat dan arusnya.

Melalui pendidikan seraya
mengasah kepekaan : urat, arus sampe titik bakar nya bakal ketauan.

Neo imperialism bukan hanya wacana,
melainkan sesuatu yang memang sedang berlangsung. Hegemoni ..thea..
(saya pernah mengangkat hal ini sedikit, di forum ini).

Bila mungkin, mereka akan
menghisap dan menyedot apapun yang ada disini sampai kiamat.

Hingga nyaris jadi nasib abadi penghuninya. Habis manis-nya, sepahnya jelas
dibuang… disini. Sama dengan setelah makan kacang, kulitnya dilupakan dan
dibuang saja… disini.

Ato memang, rakyat di tanah ini jadi
nominator yang kemudian terpilih? Terpilih untuk menerima resiko
hidup nelangsa. Nelangsaaa.. saja.

Beginilah, kisah yang terjadi pada
penghuni di zamrud katulistiwa sedari dulu. Memang Zambrud.

Bepergianlah anda di Indonesia
dari : Barat-Timur, Utara-Selatan. Km Nol di Pulau Weh, Kaimana,
wah… NTB, NTT, Borneo, Celebes, Maluku, wah..wah..alamaaak. ..

Kasian, mereka yang menghabiskan
banyak usianya dalam kawasan ukuran beberapa hektar saja yang bernama pabrik
tekstil.

Dipecat? Baiklah, ga
masalah. Tegakkan dagu. Pabrik itu terlalu kecil untukmu. Sebesar apapun itu, cuma pabrik. Tempat kotor.
(sori pren, kejam tapi bener).

Tunjukkan pada dunia kau tak gentar
menghadapi mata jurig sekalipun. Perusahaan tidak berjalan baik, bukan
kalian yang lantas kudu hilang kehormatan.

Hindarkan dirimu dari pembicaraan seperti anak sial meratapi peruntungan.

Kalian adalah ratu pesta dari industri primadona.Industri yang sepantasnya dipimpin secara istimewa oleh M.I.T. (Mentri Industri Tekstil). Yang muncul dari partai : ‘Penyerapan Tenaga Kerja’.

Negeri yang merupakan rangkaian pulau-pulau cantik ini, penghuninya tanpa ato lemah daya.

Kasian lagi, aslinya negeri
ini secantik Banowati , lebih ayu dari Nawang Wulan. Yang bilang
Grand Canyon of Colorado magnificent, belum betul dalam explore Inside
Indonesia.

Kenyataannya, negeri ini jadi bagai
gundik, budak nafsu, ato WTS : Lonte, tante ateul, bondon, perek, bargas, balon,
bispak, panti pijet, barber shop, ungkluk, ublag suing…!!

Saking cape-nya, mulut terkunci,
mata yang berteriak : “Tolong..tolong. .Indonesia jorok-botrox,
pabaliut”.

Pemegang tata-kuasa bilang :

“EGP… gw tinggal di Hilton,
pergi-pergi pake mobil senyaman Hilton. Sehebat-hebatnya RM Padang, gw
tak sudi makan disitu…

…apa bagusnya menu kumplit
dituang-sebar- tampilkan dalam piring yang bertumpuk-tumpuk.”

“…kalo ga makan di Hilton, lebih
baik gw bawa pastries Hilton buat di perjalanan.

Apalagi kudu makan
di warung pinggir jalan yang nyuci piringnya pun jijay-bajay. Thanks but
no thanks….”

Saya bilang : “Kumaha Sia..!”

Lanjut..ah.. hayang keneh…

Dimana bumi dipijak, disitu langit
dijunjung. Jika kita berada di luar kota, luar provinsi, luar negri,

maka kita indahkan tanah yang kita
injak, penduduk dan budayanya. Sekurang-kurangnya, kita ingat sedang
makan-minum disana.

Penjajah tidak begitu, penjajah tak
hormat dan tak malu. Sering memporak-porandakan tatanan. Sampe sekarang.

Penjajah hanya tau tujuan cepat
tercapai, at all risks. Bagaimana pun caranya, apapun korbannya, berapa
pun biayanya.

Dulu kita dijajah Eropa,
Jepang. Negeri-negeri lain pun rebutan pula. Negeri kita,
negeri jelita. Negeri-negeri lain akan senantiasa berperang
habis-habisan.

Untuk meraih si jelita berkalung
untaian mutiara ini. Istilah jaman dulu : Mbedah praja mboyong
putri.

Dulu kita dijajah bangsa lain :
Blak-blakan. Sekarang kita berada pada periode persalinan yang
pelik dan menentukan. Going up? Ato falling down?

Kini, negeri-negeri jadi borderless,
akses ke informasi tak seperti dulu, bahkan tak terbendung. Disini,
sudah banyak orang berpendidikan.

Orang-orang terpelajar yang telah
‘tersumpah’ itu. Menjadi pekerja atau pimpinan yang baik.

Orang-orang terpelajar itu takkan
rela mendapatkan pengalaman sebagaimana leluhurnya di tanah ini. Terjajah.

Tersebutlah jaman ini :
modern. Orang jadi mudah terlena, karena banyak maenan. Termasuk yang terpelajar. Padahal di balik segala seruan, anjuran,
dan kegilaan.

Betul-betul menganga kekuatan gaib
yang tak kenyang-kenyang akan mangsa.

Kekuatan gaib itu adalah angka-angka
yang bernama modal. Dengannya kepala-kepala kalian ditempeli
bandrol. Segitu saja harga kalian…, nyoh!!!

Tidak benar juga dikatakan bahwa
tanah air plus rakyatnya, dikuasai negeri-negeri lain semata-mata karena
kerakusan mereka.

Bermula dari tidak beresnya
pandangan penduduk disini, mengenai diri sendiri dan dunia.
Filsafat bangsa ini telah kalah duluan dari mereka sejak dulu.

Bukannya rakyat tidak mau bekerja
keras. Bukan pula tak punya semangat berkobar. Memang tak tau,
bagaimana harus melesatkan energy demikian besar dan buas.

Ditambah, negeri ini
senantiasa diperintah oleh angkatan tua yang bodoh dan korup tapi
berkuasa.

Kembali, rakyat harus ikut jadi
bodoh dan korup dengan membela kekuasaan yang belum tentu membelanya.

Sepandai-pandai ahli yang berada
dalam kekuasaan yang bodoh, bakal ikut bodoh.

Buktikan sendiri, bergabunglah anda
di Gedung Sate, Istana Merdeka. Bukannya mewarnai, anda akan
terwarnai, bahkan ternodai. Dimanakah tempat untuk idealisme?

Nol

Posted in 15524358 on 16 Februari 2009 by Duddy Setiadi

Angka nol, angka awal. Setelah angka ini pecah,berhamburanlah angka-angka baru yang
terbang menuju puncak : Sembilan. Angka nol selalu mengawali pendakian. Tersebutlah puluhan, ratusan, trilyunan.

Matematikawan mengatakan nol itu ada. Jika nol adalah kosong maka system decimal tak pernah dikenal orang. Seniman pun tak mesti berpendapat nol adalah kosong. Ronggo Warsito mengatakan : “…Hening, ning sajatine isi.” Tuh…!!

Ada materi, ada energy. Materi pun hanyalah energy yang terperangkap. Dikatakan, energy tak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan.

Dalam fokus energy. Ada gerak, ada perubahan demi perubahan, dinyatakan dalam angka-angka.
Di alam tampak mata. Sejak di tingkat mikro, perubahan senantiasa mengandung gejolak demi gejolak. Diukur dan dinyatakan dengan angka-angka.

Di tingkat manusia, perubahan tak kurang dapat mengandung dan mengundang penderitaan. Sama seperti di setiap kelahiran. Kelahiran apapun.

Week-end ini luar biasa. Dua sahabat, pulang dari La Sorbonne dan Kent. Mereka
bertandang ke tempat saya. Biasa, untuk ngopi, nostalgia dan ngadongeng. Untungnya mereka hanya bawa istri, tak bawa anak-anak. Enjoy-lah kami, bebas hambatan.

Ngobrol pun bergulir ke diskusi. Cocok dalam suasana Bandung yang sedang bercuaca dingin. Di rumah pun saya berkaos kaki dan bersendal jepit, jiga geus aki-aki.

Diantara kata-katanya, inilah yang saya kutip : “Bermula dari know-how, jadilah knowledge,kemudian wisdom. Wisdom ternyata bukanlah puncak, ia akan jadi sekedar knowhow dan kembali ber-sirkulasi seperti tadi.”

Teu nyangka, babaturan maen kaleci jeung ngadu jangkrik jadi cendikiawan. Intelek geuning maneh euy….elite- lah…

Ok, lanjut..

Ilmuwan, seniman, sering terlihat kikuk dan mengherankan.

Kemelut dan pergulatan dirinya sering tampak mewujud bagai mega mendung yang bergumpalan dalam antariksa hatinya, dalam cakrawala pikirannya.

Pergantian hari dan sinar matahari pagi pun sering tak kuasa mengusir itu.
Kalimat sederhananya,bener ceuk si Tukul. Tampak culun..katro’…ndeso..

Bermula dari kenyataan hidup yang sering tidak mencukupi,akibatnya lahirlah keinginan dan impian. Gambaran batin yang mendambakan diri maksimal, berbeda. Gambaran ideal.

Cita-cita dan cinta adalah pemimpinnya. Mereka tidak hidup dibawah telunjuk orang
lain. Tidak diperintah, tidak memerintah. Mereka sudah sejak dalam hati dipenuhi dengan cita dan cinta.

Cinta , sumber kekuatan tanpa tandingan. Bisa mengubah, membangun, menggalang.
(Saya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam lautan pada mereka yang selama hidupnya belum pernah mengenal cinta, cinta beneran)

Betapa mereka pada akhirnya bisa memandang suatu fenomena dan hati sejelas memandang system mekanik dalam jam tangan.

Berilmu, berarti mewakili orang dalam mengungkap emosi melalui uraian kata, symbol, lukisan atau nada-nada. Seperti katup yang membukakan jalan keluar. Menghindari ledakan.

Hasilnya bisa menyentuh pedalaman diri seseorang yang paling pribadi. Akibatnya seperti pembukaan cakra. Kemudian menginspirasi tindakan. Ada – ada saja caranya.

Ilmuwan dan seniman mengimpikan puncak sukses. Yaitu keindahan. Mereka juga tidak harus ‘makan’ bangku sekolah. Keindahan dapat diraih oleh siapa pun, termasuk mereka yang tidak mengenal baca-tulis.

Mereka tidak segan-segan mengatakan ‘tidak tahu’. Why? Karena tidak tau adalah bagian dari pengetahuan juga. Ya ‘tidak tahu’ itu pengetahuannya. Seperti nol adalah bagian dari angka. Bocah TK, professor, Nabi. Semua berpengetahuan sekaligus tidak tau.

Demi hidup dan berkembangnya ilmu dalam diri. Tak ada kata malu. Tidak usah malu karena keliru. Kekeliruan justru akan membantu penyelidikan, mendekati kebenaran, menjawab persoalan.

Memang akan lain dengan calo, dan usahawan. Yang bertumpu pada chance, menahan risk. Juga akan lain dengan buruh yang kalau keliru bisa menanggung resiko di baeudan ku nu boga kantor.

Demi hidup dan berkembangnya kepribadian dan perilaku, harus ada malu. Dikatakan dari 70 cabang iman, sifat malu adalah cabang utama. Rendah hati sering diperlukan.

Rendah hati adalah satu ekspresi, bentuk positif dari malu. Rendah hati tak sama dengan takut dan kecut. Demikian halnya keberanian yang sangat berlainan dengan kurang ajar.

Lulusan perguruan silat suka ngadoja jajaten di terminal. Untuk mengukir nama, untuk
dikagumi. Oleh sebab itu, guru dalam cerita silat biasa berpesan pada muridnya
yang baru dilantik : Diatas langit ada langit, coy..

Pendekar sejati tidak butuh dikagumi. Pendekar sejati selalu butuh inspirasi lalu
enlightenment kemudian hidayah. Sadar ada cahaya sejak : Korek api, petromax, matahari. Bahkan ada cahaya diatas cahaya.

Setiap pendekar sudah belajar berani, belajar kuat. Setelah terjun di masyarakat setiap pendekar harus berani belajar. Ini kata sahabat yang dari Kent: “Belajar beneran itu setelah Doktor”.

Pendekar sejati sadar hierarchy, dan ‘bahan bacaan’. Ini contoh saja, dari halus ke makro ada :

Ruh, Energy, Atom, DNA, RNA, sel, jaringan,
organ, species, genus family, ordo, tribe, kelas, divisi, dunia.

Belum lagi apa yang dibicarakan orang mengenai solar system, milyaran galaxy, dan entah apa lagi namanya. Makin banyak, makin besar.

Jadi, dalam celoteh ini,ada ilmuwan, ada seniman, ada pendekar dan ada satu lagi yaitu sastrawan. berikut Ini cerita dari pengalaman :

Dulu, saya pernah nonton pertandingan basket ball antar perguruan tinggi di Unpad. Sastra vs Teknik Sipil. Supporter Sipil meneriakkan nyanyian:

“..buat apaaaa…sastra, buat
apaaaa…sastra,…sastra ituuuu…taaa…ada
gunanyaaaa…”

Dulu, sebagai penonton saya hanya cengar cengir saja, mengiyakan. Gimana lagi? Ingat sastra ya ingat sajak, puisi, deklamasi, bawang putih-bawang merah, itu saja.

Teringat pula bahwa di Parahyangan ini, nama orang pun suka berulang
pada setiap akhir suku-kata nya, jadi macam puisi, dikira itu sastra juga.

Selain itu ada juga bentuk berikut ini, tak taulah apa
istilahnya, namun nama-nama ini memang ada :

Encas, entis, enjang, endun, engkus, enceng, entu, enju,
enang, enok, engking, entit, endik, enjeh, encang, endar, ending, engkar,
engkos, enah, eneng, endut, endi, ende,
entep, entang, entik, encep, ence, enting, enung, enom, enok, eneh.

Aneh dan rada kejam memang ledekan supporter tadi. Sastra yang dahulunya maenan raja-raja, seolah jadi tak bernilai dihadapan teknologi.

Hemat saya, Art memberi nilai estetik dan sanggup menghiasi perkembangan orang hingga tidak jadi sekedar hewan yang pandai. Selain itu, mahasiswi-mahasiswi Fakultas
Sastra biasanya pada mencrang. Euleuh..naha jadi kadinya……Anggerrrrrr…!!!

Gong

Posted in 15524358 on 16 Februari 2009 by Duddy Setiadi

Saya selalu menantikan cerita anda. Tapi tak kunjung tiba, jadi saya saja yang
mengalah. Inilah dia.

Music sekarang sangat Eropa atau Barat.
Bila kita coba memainkan, biasanya akan
menyerupainya juga. Karena larasnya
do-re-mi. lebih mudah dan lumrah.

Music daerah yang dilantunkan dengan
laras do-re-mi, jadi disebut etnis modern.

Music
disini, dulu sangat Timur. Larasnya khas yaitu Pelog dan Salendro. Orang sini ketika itu, lahir dan besar dalam
alunan gamelan. Demikian halnya music
tradisional Jepang, mirip katanya.

Seorang sastrawan telah mengaitkan dinamika
kehidupan dengan gamelan. Ya, kita sudah
lama mendengar gamelan. Mungkin menikmati dan merenungkannya. Mungkin sambil tidur saja, seperti dalam
majelis sidang Jum’at.

Coba dengarkan gamelan. Ada curahan nada-nada ulangan dalam lingkaran
harmoni. Accelerate-end, accelerate-end. End-nya itu adalah gong.

Perhatikan, semua nada bercurahan ramai menuju dan menungu bunyi gong. Ibarat mengurai tema. Ibarat melakukan usaha untuk suatu damba. Kesatuan bunyinya indah, mungkin tak ada duanya.

Dimana gerangan gong diluar gamelan
itu? Gong dalam kehidupan nyata, gong
yang agung.

Begitulah. Beberapa tahun-bulan belakangan. Industry ini bagai gamelan yang rancak
melantunkan kerinduan. Mengharap datangnya ratu adil.

Mungkin hanya merindukan, atau mencari
pun seperti ogah-ogahan. Gong kehidupan industry ini belum juga
tiba. Atau belum saatnya saja. Namun tetap banyak yang mengharapkan.

Gamelan itu seperti menerjemahkan
kehidupan industry yang hanya berputar-putar.
Mengulang-ulang , seperti pada rangkaian do’a yang jadi mantra. Tak ada tekstur, tak ada strength.

Membuai, membenamkan, memati suri kan
pikiran. Menemani pelaku industry di alam
yang lesu. Simak saja obrolan diantara
masyarakat profesi, isinya kemurungan.

Atau mungkin karena dulu tidak ada mata
kuliah Harga Diri. Dikatakan bahwa Harga
Diri, jelas tidak berhubungan dengan
keangkuhan atau kesombongan.

Tapi satu kepercayaan akan tindakan. Kemudian menyadari bahwa ada yang bisa dilakukan dengan
baik. Yang ngait ke jati diri.

Sebagian dari nilai dalam harga diri dan jati diri adalah perasaan memiliki lapangan tempat bermain. Juga merasa ada dalam keluarga yang saling mengistimewakan. Termasuk mengetahui asal-usul dan punya
gambaran untuk besok.

Atau mungkin
yang telah kita lakukan untuk bidang profesi ini sudah termasuk gaya
lama. Dimana senjata telah tumpul, hilang ketajamannya. Tidak lagi
sesuai dengan gendang dan tari apalagi masuk
kedalam tempo. Tempat gong berada.

Industri ini di Indonesia sudah
sedemikian dalam kejatuhannya. Tidak
semua dari bangsa asing sebagai peserta
dalam penyebabnya.

Sekarang, kita colohok dan hanya berbuat
sekenanya. Seperti hanya menunggu-nunggu
saja hasil kerja Barat, atau bangsa lain. Ada pula yang bangga hanya jadi sekedar
end-user.

Atau pantaskah minta perhatian Eropa misalnya,
agar memperlakukan kita secara patut? Masa
iya sih kita dikodratkan sebagai pecundang.
Apa harus ada yang merasa iba
karena kita seolah tak mengerti kondrat?

Padahal kita kan bagian dari bangsa
besar dan gagah perwira. Namun seolah, setiap
upaya kita mengangkat kepala dari permuakaan air, setiap kali itu pula
diperosokkan kembali kepala ini ke bawah permukaannya.

Gelombang tantangan seakan tak rela
melihat industry ini menjengukkan kepala ke udara untuk menghirup hawa dan
mengagumi keagungan.

Kita terus berusaha dan banyak kalah
sampai tak tahu lagi usaha dan kekalahan sendiri. Kita bukan sedang menggunakan peribahasa ‘sambil
menyelam minum air’, tak cocok. Kita pengap dan butuh fresh air.

Berikut ini adalah dari cerita yang
dikenal luas. Jepang dulu kerjanya hanya menjiplak Inggris,
Jerman.

Mereka, terutama para penggagas industry,
memperingatkan, agar berhenti mengejek terhadap bangsa itu
sebagai monyet peniru.

Kita tau itu, dan bener juga akhirnya. Toh setiap kita juga, pada masa kanak-kanak dulu bisanya cuma niru-niru. Tapi kan kanak-kanak pun jadi dewasa,
kemudian punya perkembangan sendiri.

Tapi jangan juga, mencontoh persepak
bolaan kita. Official-nya, supporter-nya,
anggarannya. Bila menang, maka
bersuka-ria lah, tak kurang puja-puji.
Bila kalah, ada benci, tak kurang cela.

Padahal kalo memercik air di dulang, toh yang terpecik bakal muka sendiri. Akhirnya, buat apa nonton liga-liga kita,
kalo liga-liga sana masih ada, lebih entertain pula.

Maksud saya, itulah perlunya kita saling
mengistimewakan. Diantara kita
masyarakat profesi.

Dalam music Barat, gong diungkapkan pada
pukulan cymbal. Biasanya dibarengi hentakan bass drum. Apa hubungannya di kehidupan nyata?

Yaitu belum kunjung datangnya sosok pribadi. Pribadi yang ada kekuatannya. Maksudnya bisa individu, boleh juga kelompok.

Sedikit tapi mewarnai. Seperti dyestuffs dalam dyeing.

Kiranya ada satu jalan yang baik bagi kita. Agar kelak duduk setingkat dengan Barat atau
lainnya. Yaitu usaha penguasaan atas filosofi,
ilmu, pengetahuan, art dan teknologi.

Semua pribadi dan bangsa akan tumbang
tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan
berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.

Di tiap bidang ada pemikir, pembaru,
pemimpinnya. Tanpa perlu sebutkan nama. Ada orang-orang seperti itu di Telkom, di
Garuda, di KPK.

Di bidang tekstil, gamelannya dinamis. Sayang, belakangan tempo-nya kurang konstan, karena tukang
gongnya suka ketiduran, kebanyakan ngisep rokok kemenyan. lupa beat dan ketukan.

Meski terdengar terlalu melangit. Marilah sedikit bicara hal kepahlawanan. Ice breaker.

Sebutan pahlawan. Sangkut-pautnya dalam urusan pembelaan. Pahlawan tak mesti marhum. Meski cap itu lazimnya melekat
pada yang sudah arwah.

Dalam urusan bela-belaan ini : Ada yang angkat tangan, dilupakan dalam
pembuangan, tewas memilukan, ada juga yang sangat bosan behind the bars.

Itulah bagian pahitnya : Menyerah,
jatuh-kalah, mati dan gila.

Bagian lainnya : Nama terpatri ke satu ruas jalan, gedung,
airport. Wajah tercetak pada prangko,
uang. Seluruh tubuh atau sebatas dada di-patung-kan,
dari bahan logam atau lilin.

Disana, ada yang profile wajah-wajahnya terpahat
berjejer di batu gunung. Boleh saja
dibilang sisi manisnya. Dari kepahlawanan.

Dalam pergulatan : Satu demi satu akhirnya hilang. Bisa jadi dua terbilang, bisa tumbuh seribu,
bisa patah tumbuh hilang berganti. Atau,
bisa pula punah sekalian. Tak ada
ceritanya lagi. Unknown.

Jelas, mereka itu bukan yang posisi-diam
terakhirnya di kavling makam pahlawan saja.
Boleh jadi, beberapa dari mereka jasadnya terpendam-diam dibawah restoran.

Bahkan mungkin selama hidupnya mengenal
istilah pahlawan pun belum. Saking
sibuknya mereka dalam mendapatkan sesuatu yang sangat asasi yaitu kebahagiaan.

Pergulatan mereka itu, kalo disebut
upaya survival, bisa saja lebih sreg. Kepahlawanan biasanya berupa pembelaan atas
keberpihakan, atau menjunjung harga diri tadi.

Ada epic, ada heroic, dan ada pula romantic di
seputar kepahlawanan.

Lain pahlawan, lain lagi
penghianat. Yang disebut belakangan
biasanya bukan yang siap dan rela mati, tapi justru menghendaki sebutan
‘pahlawan’ itu. Supaya mendapat perhatian
dalam hidup. Hanya perhatian.

Industry ini butuh banyak hal. Sejak hardware, software, terutama brainware. Belum lagi integritas, dedikasi, think-tank dan lain-lain nilai.

Mengapa butuh banyak? Karena harus siap menantang ilmu, pengetahuan,
teknologi dan art modern.

Semakin tua, wajar jika kita semakin
luntur idealisme. Tapi marilah kita
sisakan sedikit saja dan coba setia pada kata hati.

Agar kita dapat lebih berharap pada datangnya
seorang pemikir, pembaru, pemimpin yang
dapat memberikan kata putus. Dan mengubah
keadaan secara total. Gong !!

Rukun

Posted in 15524358 on 16 Februari 2009 by Duddy Setiadi

Tanggal 24 bulan 8 Imlek, hari lahir pemimpin spiritual
bangsa China. Dia jadi orang besar dan
dikagumi secara meluas.

Oleh penganutnya dianggap Nabi. Sebutannya Kong-Kiu atau Tiong-Ni. Kemudian lebih dikenal sebagai Kong-Hu-Cu.

Dalam komunitas orang-orang China ada yang beragama
Han-San-Wei- Yi. Agama ini merupakan sinkretisme
Tao, Buddha, dan Kong-Hu-Cu.

Ada juga keturunan Hui-Hui. Di kemudian hari dikenal sebagai
bangsa Han yang rata-rata muslim. Diantara mereka terjadi pembauran yang karib.

Juga dengan pribumi Jawa yang beragama sinkretisme
Hindu-Buddha. Sebagian mereka ada yang mengambil
perempuan-perempuan pribumi sebagai istri yang disebut Cau-Bau-Kan.

Dari perkawinan itu melahirkan keturunan yang disebut China
peranakan, dinamai juga Kiau-Seng. Setelah
berjalan dua generasi berubahlah namanya menjadi Tionghoa.

Mereka adalah gambaran asasi dari pengertian kerukunan.

Masuklah generasi para wali disini. Sebagai pendatang, orang-orang Islam ini pun membuat harmoni
dengan orang yang telah berkeyakinan tertentu di tanah ini.

Bila selanjutnya Islam jadi mendominasi populasi di tanah
air, pastilah itu disebarkan dengan cara yang ramah.

Begitulah penyebaran keyakinan secara benar yang telah
dicontohkan oleh orang-orang besar. Yaitu
melalui kelembutan, delicate,
tenderness.

Taun 2000 – 2001 saya
di India untuk suatu occasion. Pelajaran
atas muslimin di India begini:
Populasinya 10 % saja, itupun maksimal kata kawanku disana.

Jika keseluruhan penduduknya 1,3 milyar ketika itu, maka
sekitar 130 juta warga India beragama Islam.
Jumlah itu hampir sama dengan muslim di Indonesia. Banyak juga.

Meski banyak, mereka tetep dikategorikan minoritas. Oleh sebab itu, mereka rendah hati. Disini, lantaran muslim merasa mayoritas jadi
olo-olo dan polontong.

Jadi, untuk mendapatkan sifat humble, kiranya perlu juga merasakan
jadi minoritas. Saya tentu tidak
menganjurkan seorang muslim menyekolahkan anaknya di St. Aloysius – misalnya – untuk mendapatkan sifat rendah hati.

Ketika Rum takluk, Parsi tekuk lutut. Para sahabat Nabi tak ada yang peduli pada
emas. Mahkota raja malah jadi mainan
anak-anak mereka yang disepak kian kemari.
Dengan demikian kerukunan umat tetap solid.

Setelah Mekkah jatuh, Nabi s.a.w. mengajak bertasbih. Pengaruhnya :
Seorang yang telah membunuh dan memakan hati Hamzah r.a. pun kemudian embrace
Islam .

Apa katanya :”Bukan aku masuk Islam, tapi Islam memasuki hatiku.” Jadi, tidak ada balas dendam. Tak ada bancakan, rayahan. Tak ada euphoria dan hura-hura. Kerukunan pun pulih.Semua Nabi dan orang-orang besar, mereka pada awalnya adalah
minoritas secara fisik dan keyakinan.
Setelah menjadi mayoritas, apakah cara lemah lembut itu ditinggalkan?

Tentu tidak. Upaya
menanamkan keyakinan syaratnya tidak berubah.
Tetap dengan lemah lembut, sabar.

Mengapa? Karena keyakinan adanya dalam hati. Menularkannya perlu hati-hati agar tidak
pecah hati. Jika tidak, maka yang terjadi
hanya ironi.

Maksud hati menjadi penyebar kasih sayang diseluruh jagat,
hasilnya malah jadi banyak orang yang hatinya patah arang. Parahnya, jadi meninggalkan mayat-mayat
yang hatinya telah patah.

Di Indonesia orang Islam masih dominan. Kiprahnya rada nge-jago dan jago-jagoan,
tipikal hukum di rimba. Belagu sesama
mereka dan legeg terhadap yang berbeda keyakinan.

Tingkah seperti itu malah jadi bahan tertawaan. Masih mending si Eko Patrio, walau bodornya pasti
garing, tetep dibayar.

Kepada mereka yang berambisi menjadikan Indonesia sebagai
negara Islam,
saya mengucapkan : “Selamat bermimpi di siang bolong, jadilah kalian binatang
pungguk yang mengharapkan satelit-satelit lain, karena bulan jadi merasa najis untuk dirindukan.”

Menurut saya, mereka sedang ngimpi modol. Besok mereka akan frustasi dan dinamai modol
apu, apes dibawah apes. Kooop… mere, da bongan hayang.

Sampe belut buluan, oray jangjangan, NKRI takkan sudi jadi
negara Islam. Begitulah bunyi ideology
dan konstitusi. Memang bisa berganti,
itupun kalo Alloh menghendaki.

Sayangnya, kelakuan orang Islam belum sesuai dengan kehendak
Alloh. Geus lah ngaku wae, teu kudu
hujan ayat girimis hadist. Nunjukin Self Defense
Mechanism? Ditertawakan lagi.

Itu adalah sarkasme dari pepatah halus: “Hayang ngarawu ku siku”. Tidak sadar proses, tidak sadar konteks,
tidak sadar mind-set, terutama tidak sadar diri.

Supaya jaya, yang penting adalah bagaimana agar para raja,
para gegedug, dan seluruh manusia yang masih bercokol di seluruh permukaan planet ini, dapat mengenal Pemiliknya, menjalankan cara hidup kekasih-Nya.

Para Nabi tidak ada yang harot pada wilayah, tak ada yang
nyuruh buat negara exclusive. Para nabi
mengupayakan sungguh-sungguh agar kalimat Alloh tegak dalam hati seluruh
makhluk yang bernama orang.
Jika dunia jadi dibawah
telapak kaki, itu mah hadiah saja. Bahkan jadi resiko, kata orang beriman yang sadar hisab itu ada.
Manusia berdo’a: “Ya Alloh, di rumahku banyak tikus, beri
aku uang agar bisa beli mouse-trap dan racun yang akan membinasakannya
sekalian.”

Itu contoh saja, temukan do’a dalam kasus lain di kehidupan
kita.

Do’a macem gitu = ngajarin Alloh bertindak. Pokoknya urusan beres, tikus tak ada. Caranya, Alloh yang tau. Toh, Alloh juga tempat kembalinya segala soal.

Berdo’a lah agar dijadikan orang ta’at. Manusia, .. ya.. ta’at
saja sesuai dengan cara hidup kekasih-Nya.
Sunnah tea.
Sunnah kan cara hidup
ciptaan Alloh, yang secara sempurna diamalkan oleh kekasih-Nya. Ulama bilang ta’at adalah ruh agama.

Deduktifnya gimana? Umum
ke khususnya gimana?

Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan
makanan orang lain. Harus semakin
mengenal batas. Kalau orang tak tahu
batas, Tuhan akan memaksanya dengan cara – Nya sendri.

Cukuplah bersikap jujur terhadap diri sendiri. Kita hanya menghendaki nikmat dari jerih
payah kita sendiri. Yang lain tidak kita
perlukan. Kehidupan senang, bagi kita
bukan asal pemberian, tapi pergulatan sendiri atas bantuan-Nya.

Tertib diatas tertib, aturan diatas aturan, prinsip diatas
prinsip adalah kesatuan hati. Bila ada kesatuan hati, ada pertolongan- Nya.
Dunia hanya keperluan hidup, only necessity of life. Bukan maksud-tujuan hidup, not purpose of life.

Widya Wisata

Posted in Tak Berkategori on 18 Januari 2009 by Duddy Setiadi

Baheula di kampus ada program Widya Wisata, ga tau sekarang mah. Biasanya pergi rada jauh. Giliran saya, pada taun ’88 ke Jawa Tengah. Bayarnya kalo ga salah 15 rebu-an, gitu?

Persiapan menunggu keberangkatan bagai suasana menjelang I’edul Fitri. Resep pisan, penuh suka cita. Yang didaulat jadi panitia pada begadang di kompi Menwa, bari heureuy dan ngawadul seperti biasa.

Pergi lewat jalur Selatan. Bis yang digantungi spanduk di body-nya itu tanpa reclining seat, jadi rada hese sare. Meh rada gaya, di kaca-kacanya ditempeli tulisan “Tour de Java” dari potongan karton bikinan adik saya.

Di perjalanan setelah bosen ngobrol, yang jago gitar mulai jentrang-jentreng. Dari lagu Barat yang lagi In, hingga lagu local. lagu dangdut mah barudak rada najis.

“Sepanjang Jalan Kenangan” disambut baik dan diikuti oleh senandung all participant terutama mahasiswi. Yang enteng dinyanyikan yaitu “…di radioooo…” dari Gombloh. Mun geus beak kabeh, tungtungna tetep lagu “…mengapa.. di dunia ini…” dari Charles Hutagalung, yang bagian reff-nya ngeden pisan.

Akomodasi diatur sedemikian rupa. Transport PP menggunakan charter bus “JS” alias Jusuf Sekeluarga. Nginep di hotel sekelas Melati dimana kamar-kamarnya mengelilingi kolam hias yang tengahnya ada patung ikan nyemburin air dari mulutnya. Ajiiib.

Kegiatan disana agenda-nya jelas. Acara telah di program dan di-confirm dari Bandung, pokoknya well organized.

Mun teu salah mah satu diantara pabrik-pabrik yang didatangi adalah Dan Liris, yang sambutannya bagus tea. Mungkin gara-gara nampak dari wajah kuleuheu para mahasiswa, maka penerimaan di pabrik sana jadi rada beda daripada kunjungan pabrik biasa di Bandung yang cuma disuguhan teh botol.

Di Jawa Tengah mah rada special. Setelah ‘inspeksi’ pabrik, rombongan disajeni makan prasmanan. Seorang kawan yang kalap (kalaparan), nyomot ayam goreng 2 potongan badag sekaligus. Lantaran meureun era, untuk menyamarkan maka piring mentungnya ditutupan kurupuk udang.

Disitu pula saya baru tau: “Ooo…. Ieu… mesin Picanol teh….gandeng pisan geuningan euy….pabrik tinun mah matak bonge……berikut sieun teropong luncat kana sirah!!”

Ada wisata candi, dan pantai. Di Parang Tritis, sembari naek kuda saya difoto Polaroid. Duh….entah dimana dokumentasi itu sekarang. Padahal gambarna alus pisan lantaran harita saya rada jabrig, mun ayeuna mah jigana cocok jang iklan shampoo.

Mampir ke UII Jogja, bla..bla..bla…..Malemnya si-MC ngotot pisan, dengan penuh bujuk rayu nyuruh kita mentas di aula kampus itu. Jadinya persiapan pun dilakukan dalam hitungan detik saja. Kumaha engke wae…lahh..

Dulu jamannya Vocal Group. Perempuan di setel didepan bikin treble dan serak-serak basah, laki dibelakang terbagi menjadi tenor dan bass.

Formasi band ketika itu, Joko Waluyo nakolan drums & percussions, lead guitar n melody Hotma Pardamean Hutasoit, dan Revki Maraktiva pada rhythm, kitu?

Nu jelas, saya bass. Potona ge aya keneh, dipiguraan dan disimpen di rak buku sampe sekarang. Pake kaos item – dikasih Djarum Super – dan celana jeans. Pokona mah gaya, jiga Yuke Semeru – Best Bassist Indonesia ‘86. Jiga teaaa.. jauh ka enya.

Lagunya standar pisan: Kemesraan. Sok aja, mulai reuni SMP, SMA, hingga reuni ITT-STTT Nop ’08 kemaren, popularitas lagu Iwan Fals itu mengalahkan “Somse”-nya Doel Sumbang. Therefore, sebisa-bisa hafalkan saja lyric lagu itu, pasti kepake suatu hari.

Tapi pentas malem itu terbilang sukses euy. Buktinya, orang-orang pada bertepuk tangan.

Sempet mampir juga ke rumah Asngari ’84 di Solo, dimana dia telah bertindak sebagai host yang luar biasa. Seluruh gerombolan yang diangkut oleh 2 bus itu, makan di rumahnya dengan balasan ucapan ‘matur nuwun’ hungkul, asli.

Dosen yang ikut Ibu Mardiani. Beliau bertindak sebagai juru bicara kami dalam menghadapi pimpinan perusahaan dan beberapa alumni yang kerja disana.

Dosen lain yang ikut, poho. Saha wae, nya? Tapi kesan yang melekat yaitu: Sikap para dosen terhadap mahasiswa ketika diluar kampus mah jadi rada nge-fren euy, bisa suey-suey.

Ok, then…

Respected elders, brothers and friends….

Widya Wisata dan kunjungan pabrik adalah bagian dari kurikulum yang sangat bermanfaat. Mahasiswa jadi tergugah dan membuat sambungan-sambungan mata kuliah yang diterimanya.

Kebalikannya adalah Penataran P-4 Pola 100 jam, berikut pelajaran Pancasila dan Kewiraan yang pernah kami terima. Relevansi dan manfaatnya sampe sekarang masih tetep merupakan misteri.

Demikian pula seminar dan symposium yang pernah digelar oleh para mahasiswa ST-3 dulu. Sangat membuka cakrawala kemudian merangsang kita membuat sambungan-sambungan yang lebih luas dalam wacana dan tindakan.

Bahkan dulu, jalur ke Pak Mentri Perindustrian pun bisa di akses cukup oleh perwakilan mahasiswa saja.
Alangkah bermanfaatnya bila kebiasaan-kebiasaan baik yang sifatnya ilmiah itu bergulir menjadi satu tradisi yang berkesinambungan, periodically. Sekaligus jadi tempat silaturahmi yang berbobot.

Maksud saya adalah mengajak mewujudkan “Ikatan” beneran. Bukan sekedar “Kerumunan”.

Pedagang Yang Jujur

Posted in ST-3 Forum on 15 Januari 2009 by Duddy Setiadi

Populasi tinggi, kalau mau jualan, calon pembeli banyak – pending dulu bahasan mengenai daya beli, ok? Selain itu, dengan populasi tinggi cari pegawe mudah. Terutama saat ini, rekrut aja, asal jangan cap thank you.

Alamnya kaya, beraneka dan moderate. Mendapatkan rupa-rupa bahan baku relatif mudah, berkarya sepanjang tahun bisa tetap enjoy.

Perguruan tinggi banyak. Tuntutan terhadapnya dulu;
supaya “link and match”, sekarang; supaya “berbasis kompetensi”, besok apalagi? Sabodo teuing, yang penting, mahasiswa feel on the right track, lantas punya tujuan.

Ahli-ahli di berbagai bidang pun sudah mulai banyak, dari berpendidikan SD
hingga doktor.

Hasil-hasil penelitian sudah banyak, mau dagang, tinggal pilih yang cocok. Anyway, tuntutan bagi peneliti jaman ayeuna adalah menghilangkan gaya penelitian jadul – demi kepuasan batin atau untuk cum doang.

Ciri penelitian jadul: Judul rada-rada ga’ib, mahal, tidak best seller, tidak heading ke arah sejahtera, teu nyambung. Menuhin rak-rak arsip, selanjutnya kalah efektif oleh informasi paperless yang mudah di-akses.

Hasil penelitian yang bagus ibarat scenario untuk film “The Last Samurai”, hasil
riset yang dodol paling ”Jin dan Jun”.

Hal tersebut diatas beberapa contoh saja dari sumber
daya yang nampak di permukaan bumi Indonesia.

Sumber daya yang tidak nampak jauh lebih besar. Disebut sumber daya karena memang punya daya. Disebut jauh lebih besar, ya, powerfull.

Sumber yang powerfull itu hanya bisa diteropong dengan ilmu para Nabi-para Rosul hingga para Wali. Jaman sekarang, peneropongan, secara lumayan bisa dilakukan orang pake “perabot” yang namanya sains, art, dan teknologi beneran. Bukan applied technology.

Perabot – perabot tadi tidak akan berfungsi jika tukangnya tidak penasaran akan suatu rahasia. Contoh penasaran: Paparazzi.

Jelas, manusia Indonesia berdiri ditengah-tengah sumber daya. Ditengah-tengah, pak! Nge-drive
sumber daya itu sesuai dengan gagasan yang ada dalam benak hingga bermanfaat, lumayan,
sudah layak disebut bersyukur.

Pragmatis dikit, falsafah ekonomi menganjurkan agar bermain-mainlah dengan yang melimpah itu.
Yang mudah, yang murah, hasilnya jederrr.

Jederrrrr disini relative, kalo materi, bisa jutaan, sampai milyaran, (Kalo setaun dapet 20 milyar mah terus pensiun aja kalee….) Kalo non-materi, bisa jadi sumber kearifan, bajik, bijak.

Orang yang berpendidikan industri sudah pas, klop. Apalagi Industrinya spesifik, itu kan berarti ladang yang siap didalangi. Industriawan bermental, berpikir, berkarya industri.

Industri berkenaan dengan sesuatu yang sifatnya masal. Matematika-nya terapan saja, paling top program linier. Bagian dari tekno-ekonomi,agar industri efisien.

Di negara industri, orang, ketika ilmu dasar, jurus-jurus dan trik-triknya telah ter-install di benak.
Lalu pasang radar, bidik order.

Disini, orang tinggal Tanya: “Mau bikin apa?” Disini, orang tinggal jawab: “Bikin anu”. Si “anu” itu sebaiknya yang ngait ke sources dan didukung dengan penyediaan teknologi yang relevan untuk industri nya.

Cara industri kan merangkai sources tersebut kayak di circuit board. Itu analogi, bukan maksud menggampangkan.

Rancang usaha nga-warung yang knowledge base, research base, biar bisa sustain.
Pelan-pelan, singkirkan “de-ampat look”, cari pegawe.

Sebisa-bisa hindari ngelamar plus pake psikotest segala. Dari jam 8 – 16, test-nya itu-itu aja.

Gunanya ayah menyekolahkan. Supaya anak piawai dalam goal-setting dan
mengeksekusi niat-niat baiknya.

Haruskah orang ketar-ketir, kebat-kebit, gundah-gulana,
niti semplek, nincak semplak, teu puguh cabak, tuluy aral? Tidak harus.

Sedikit sih boleh, biar ga seperti tikus mati di beras. Supaya alert, bisi kaburu di pacok oray.

Esensi pendidikan adalah merubah perilaku dan mandiri.
Perilaku, arti gampangnya: Ngerti cara berteman. Minimal tidak sampai “makan tulang kawan” / cia
hopeng / kanibal. Maksimal membuat kawan bahagia dan masuk sorga.

Bisnis bagian kecil saja dari muamalah, muamalah
bagian dari agama. Hakikat ber-muamalah adalah
mendapat sifat jujur. Disitu challenge-nya. Sorry friends, ni buat yang muslim, kan Nabi
s.a.w. di surga nanti bakal bersama pedagang yang jujur.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.