Saya mengucapkan: “Selamat untuk angka baru 2009”
Monggoo…..
Tersebutlah pita trasport ‘Anyer-Panarukan’. Istilah populer sekarang: Pantura. Sejak dibentangkannya, jalan raya lintas provinsi itu hanya sedikit tambah lebar.
Belum lebih aman, terlebih nyaman. Yang pernah jatuh cinta disitu hanya seorang, namanya: Sheila Madjid, itupun hanya ‘Antara Anyer dan Jakarta’.
Di hinterland ada Bandung. Sebuah kota yang awalnya tidak dirancang menjadi metropolitan. Dulunya buat belajar. Dewi Sartika membuat ‘Sakola Kautamaan Istri’ , 1914.
Pengusaha kebon teh Belanda, bikin ITB, 1920, dan lain lain. Jalanan di kotanya kecil-kecil, banyak perempatan, dikit-dikit setopan.
Kota-kota satelit mengitarinya. Bandung pun administratively, telah dimekarkan lagi dan lagi. Pusat perbelanjaan dan keramaian di tiap wilayah ada, tapi radius Alun-Alun Bandung tetep mangrupa magnet yang diserbu saban hari.
Entah karena sarana dan moda angkutan yang komplit, atau hal lain. Tampaknya urusan pasar tidak mudah di-otda-kan.
Penduduknya punya laju beranak-pinak tinggi. ABG menyusui balita, banyak. Remaja menggendong orok sembari menuntun anaknya yang TK, ga kurang. Lihat saja di kantong-kantong padat pemukiman. Satu diantaranya seputar ST-3.
Di Sidoarjo, yang melimpah dan meruah ya jelas lumpur. Di Bandung naon? Budak leutik, lalu anak bulu kumu’ut sampe bujangan gumasep.
Orang tuanya memodali motor buat sekolah biar anak sigap. Eee….malah di preteli knalpotnya, katanya ngemodif. Demi berkontribusi pada kebisingan kota, dan membangun sifat teu boga ka era.
Yang nurus tunjung, eitt…jangan salah….Manusia dewasa pun tak kalah edun dan marak dibanding adik-adiknya.
Muffler gas buang yang built in nya ber-silencer itu, diboboknya. Padahal kan, makin halus bunyi kendaraan, makin ciamik.
Dulu ‘Berhiber’ sekarang ‘Bermartabat’. Itu baru slogannya. Meski lampu jalan banyak yang off kalo malem, termasuk di land mark nya, jalan layang Pasupati.
Pemkot, dprd, dan rengrengannya. Eksekutif, legislatif dan yudikatif. Telah sepakat, setali tiga uang. Untuk tetep niat, tekad, dan nekad menjadikan kota ini sebagai:’Tourist Destination’.
Bandung Parisj van Java. Di Paris ada Eiffel tower, di Bandung ada 800-an menara BTS, bisa imbanglah and wani keneh ngadu, so they don’t see why not.
Untungnya, para pelancong jarang liwat kolong fly-over Cimindi, dan Kircon. Langka seliweran di Tegallega dan ruas Ciroyom-Garuda.
Apalagi Kopo Sayati yang – masya Alloh – sisi jalannya nyaring oleh dentuman dan lengkingan dari demo dan promo dvd bajakan.
Seingat saya, dalam itungan 25-30 tahunan terakhir, belum beranjak dari keruwetan menjadi ketertiban.
Ok, beberapa hal diatas tidak hanya terjadi di Bandung. Di kota-kota Jabodetabek pun ada area-area serupa, si-kon nya sebelas dua belas.
Disini kita belum bicara mengenai tatanan yang seharusnya, sewajarnya, seyogyanya. Termasuk tepo seliro, dan norma umum.
Kita sedang bicara dari contoh day the day events di ruang public Bandung apa adanya, yang biasa membuat orang banyak tertekan.
Gagasan kota wisata, positif. Mengapa? Tourism mendatangkan devisa langsung. Demikian wisman landing, segera beli rupiah lantaran kudu naek taksi.
Kemudian dijalan lihat cengkir dan manggis, yang eye catching. Karena ga kuat nahan lagi, akhirnya beli deh. Pake rupiah.
Devisa dari pariwisata, langsung dinikmati oleh orang-orang grassroot macam kita. Kalo bukan ‘kita’ ya saya lah…
Tidak seperti devisa dari migas, kayu lapis, TPT dsb, yang muter-muter dulu. Sebagian pengusaha menggolangkan hasil ekspornya di S’pore, pan judulna ge ‘Sorga Bagi Para Investor’.
Demikian pula devisa yang diraih negara, pasti kukurilingan heula. Penyebab lambatnya adalah hal administrative dan birokrasi.
Jadi, devisa akan melalui banyak polisi tidur sebelum sampai pada yang berhak. Rakyat mah dari APBN ajah, melalui spending-nya.
Wisman avonturier kadang tak sungkan join ama wisdom. Jol-jol meuli cilok, cireng, cimol, gehu, bala-bala, pisang aroma atau cakue- nu bangsa urang mah, ngadaharna sok bari jeung cingogo tea.
Ada yang cuma nyicipin, ada yang jadi keranjingan. Si bule yang penasaran bilang:”Do what Indonesian do.”
Pelancong local bilang:”Ni dia kuliner Bandung.” Murah, asal wareg dan bebas maag. Pokoknya karbohidrat, sumber energy. Di NTB juga, kambing makan kardus hidup sehat penuh vitalitas.
Selanjutnya. Dagang tourism dipahami cash and carry. Sorry pada supplier obat yang sering ngutangin barang lantas riweuh dalam urusan Term of Payment.
Biasanya dalam kasus ga nyambungnya amount pembayaran dengan dollar hari ini. Rada-rada simalakama, ga ngasih, ya ga ngomset.
Bisa bo-cuan alias plus-plos, untung ipis, bo-hwat tapi demi jaga hopeng, bahkan bukannya untung malah jeblok.
Melalui tourism, sebagian rakyat jadi mengenal rupanya uang asing. Sering dijumpai mata uang asing sebagai bahan koleksi pribadi yang disimpan rapi, tanda mata persahabatan.
Tourism membuat masyarakat jadi dual, hingga multi culture. Ajang saling mengenal budaya dan nilai. Dalam frame antar diri maupun antar masyarakat.
Bisa dipake sarana latihan English atau bahasa asing lainnya dari native. Daripada ikut kursus mahal, sekurang-kurangnya ‘litel-litel mah ay ken’ lah.
Dalam hal tourism, Bandung atau Jabar masih belajar pada tahap awal, tidak seperti Bali yang sudah advance dan berkelas dunia.
Lepas dari controversy-nya, tourism dapat memicu upaya berbenah diri masyarakat dan individu. Jadi ‘dipaksa’ belajar terus, to make everything in-order.
Termasuk memfungsikan jembatan penyebrangan daripada hanya sekedar tempat nempelin billboard. Membudayakan penggunaan zebra cross yang tentu lebih murah, dan menambahnya.
Dulu taun 80-90an, kalo masuk Agustus di Bandung turis banyak sekali – pengertian turis disini tidak mesti bule lho.
Sekarang ko jarang. Analisa sebab-akibat yang resmi bukan urusan saya. Disini hanya memuat ungkapan saya saja.
Wisman, picnic kesini bukan untuk gogoleran in the hotel room. Night clubbing, reading, swimming, and f..king, selingan saja, bukan tujuan utama.
Mereka tidak hanya baca peta terus belanja barang-barang yang akan jadi sampah.
Keinginan mereka lebih pada exploring Bandung and it’s surrounding, masuk ke perkampungan, kebon dan sawahnya.
Kalo cape ya ngaso-nya nyeruput teh tubruk sambil makan beuleum ketan seperti di jalan Lembang-Ciater.
Demikian pula kita kalo bepergian ke mancanegara atau new places. Barang yang ada di pasar baru pan ga akan kita beli lagi disana. Back packer juga begitu.
Kalo situasinya seperti sekarang ya apa yang akan ditawarkan? Ke Saung Angklung Mang Udjo yang fenomenal saja di Padasuka-Caheum. Suasana jalan dalam route-nya meuni anjrit pisan.
Untuk 2 kawan saya (dari ST-3) yang naga-naganya, lagi ngincer posisi di legislative daerah. Issues diatas dapatlah kiranya dijadikan bahan buat koar-koar.
Ga canggih sih, berilah contoh pelan-pelan saja – supaya teu kaciri teuing harot-na. Coba ajak sodara-sodara kita untuk mengembangkan sikap sederhana seperti santun di ruang public.
Sekarang memang tampak omong kosong. Namun, suatu waktu ketika memutuskan untuk mewujudkan kata-kata menjadi perbuatan maka percayalah,
omong kosong akan berubah menjadi omongan berisi. Terlebih penting adalah peluang ente terpilih jadi anggota dewan, jadi lebih besar. Sok geura, bismillah.