Drama kosmik manusia telah ditentukan sejak jauh-jauh hari, seluruhnya. Tintapun kering sudah. Orang Islam meyakini Lauh Mahfuz.
Pengertian didalamnya tak hanya hal-ihwal manusia, kehidupannya, dunia dan isinya. Bahkan alam raya pun tak bakal ada tanpa sosok nur Muhammad s.a.w.
Demikian roh dihembus ke janin, takdir hidup seseorang pun sejatinya kekal. Ibarat kaki sudah terlangkahkan, pantang dihela surut.
Se-’elang’ apapun pandangan, se-‘edun’ apapun pendengaran, sepeka apapun perabaan, setajam apapun kecerdasan, secempiang apapun satu pribadi.
Pengetahuan mengenai manusia takkan sempurna. Di release-lah berbagai: Cerita, dongeng, fable, cerpen, novel, dst. Umumnya, perihal manusia dalam kehidupannya, bukan matinya…..
Telah dimaklumi; Alam rahim 9 bulanan, alam dunia 60-70-an.
Kemudian sebagai mayat, kebanyakan ‘ex manusia’ akan tinggal dibawah tanah, yang jauh lebih lama dibanding dengan ketika diatas permukaannya.
Dinding tanahnya amblas, papannya ancur, kafannya ludes. Di wilayah kelembaban tinggi, tulang belulangpun terurai lebih cepat. Lantas semua berbaur serba sama, dingin dan sepi.
Destruksi berlangsung singkat, di dalam lingkungannya yang sempit, liang lahat.
Suami ya dimana, anak-istri ya entah-berantah. Dulu bercengkrama dalam suasana hangatnya rumah tangga.
Sejak semua-mua marhum, tak ada dan takkan pernah berangkulan lagi. Khalas, finished, nothing at all.
Andai yang satu bertanya-tanya, dimanakah gerangan yang selebihnya di ‘petak’ kan. Jadi bagai punguk merindukan bulan.
Roh kembali pada yang Empunya, hiduplah si ‘mantan orang’ tadi di alam selanjutnya, bergantung total pada teman yang bernama iman dan amal, semata-mata.
Dimana iman dan amal ketika itu wujud dengan senyata-nyatanya, tidak ghaib sebagaimana kini.
Setelah menyebrang sakratul maut, selamat datang di ‘ruang’ abadi. Resmi sudah, jadi penghuni tetap disana. With new identity.
Lebih dahsyat daripada alam dunia, sebagaimana dunia lebih gebyar daripada alam rahim. Lain sama sekali, tak terkatakan, tak bisa mundur. Kata ‘maut’ telah dicoret dari vocab ketika itu.
Manusia dapat saja menjelma tanpa melalui S.O.P. Tak perlu di dahului dengan adanya kerinduan, kemesraan, dan hasrat segala.
Yang kemudian berkembang jadi gairah menggebu dari dua macam organ-organ genital yang mengeras, panas dan basah.
Tak perlu ada lenguhan, desis dan desah diatas kain seprei yang lantas kusut masai. Tak perlu melewati gelinjang perempuan dalam birahi puncak.
Manusia dapat tercipta tanpa “cret..” dan “ugh..” Orgasme dan ejakulasi jelas tak relevan. Kawin-mawin ga penting.
Pun manusia dapat dilahirkan tanpa persalinan, dimana perempuan berjihad merentang satu-satunya nyawa tanpa jadi putus, sambil terus menerus ngangkang, ngeden dan berburu napas.
Manusia dapat terwujud “jleg” begitu saja, as that simple. Alloh mencipta bisa dengan asbab, tanpa asbab bahkan berlawanan dengan asbab.
Duh, betapa hebatnya, Engkau, ya Allooooh.
Seorang kawan yang tinggal di Solo mengatakan, kalo gitu Nabi Adam a.s. dan Nabi Isa a.s. ga ada udelnya, donk.
Rada belegug memang, biar aja, ngadepin hal begitu dilarang-melarang. Ijroil a.s. mungkin kontan bilang:”Jogo ndhas-mu, bajindul!”
Sorry to say, bagi yang lajang, sahkan your spouse very soon. Sepak saja ide kudu tunangan heula, kampungan.
Daripada busuk ngagantung pan lebih baik rusak dipake. Bidadari sorgapun sepertinya preferred ama yang experienced.
Manusia tidak seperti ikan, benih dan bangkainya laku dijual. Ok, memang ada: Sperm Bank – yang tidak menerbitkan ATM, tea.
Ginjal, mata, jantung, dan semua organ yang bisa di transplantasikan. Darah yang lazim ditransfusikan.
Bahkan otak pun di preparat-kan, lantaran kelangkaan bahan studi untuk IQ > 200, macam milik Mr. Albert Einstein.
Namun, itu diluar cakuan pembicaraan saya sekarang, dalam hal manusia sebagai bangunan yang komplit.
Takdir ada dalam diri manusia dan terpisah dari waktu, dan segala sebab-musabab yang berputar dalam hari-harinya.
Demikian SK-nya turun, manusia harus rela meninggalkan: Raket tennis yang masih dipegangnya, hape yang berdering di kantong celananya,
hutang yang belum dilunasinya, gagasan jangkung yang belum ter-realisir, domba nu can diparaban, STNK yang belum diperpanjang,
PBB nu sok poho wae, anak yang belum sempat dinikahkan, cau nu geus meujeuhna asak, dan istri yang smart, chic, ngenyod keneh dan masih jauh dari menopause.
Kalimat sansakerta-nya kira-kira begini: Meski percak-percik kenikmatan dunia tampak berkilauan, terserak bagai hamparan intan permata berjuta, termandikan cahaya mentari yang sedang berangkat ke tengah hari. Tapi biru masih tetap satu perjanjian.
Perjanjian akan warna laut yang tetap di bawah, dan warna langit yang tetap di atas.
Sepongah apapun manusia ketika hidupnya, wadul-nya dilangit ketujuh nyundul kahyangan, bumi pasti menelannya, menang telak.
Mati merupakan kesepakatan bersama, agar manusia segera meninggalkan dunia yang penuh dengan urusan menggantung. Nu moal beres-beres.
Orang beriman menyambut mati bagai lebaran. Ingin loncat dan nobros pada lapisan tipisnya, karena kebaikan amalnya telah berwujud dan ditampakkan. Siap menyambutnya dengan big hug di sebelah sana.
Semakin tinggi komitmen manusia dengan kematian biasanya semakin membawa kebaikan demi kebaikan. Makin low bat makin tinggi kerinduan tuk bertemu Rabbnya.
Pokoknya, seratus taun lalu kita ga ada, demikian pula seratus taun kedepan. Disini manusia bukan untuk menetap.
Perpanjangan Kontrak-kontrak Karya dari Multi National Companies, bisa per 50-an tahun. Dipahami relasinya sebagai state to state atau business to business. Disini saya bicara person to person yang tidak berharap hidup hingga 100-150 taun.
Grand design-nya, manusia dirancang untuk menghuni akherat, wayahna harus melalui alam dunia heula. Nu sakocepat sepat, sakeclak cai, sekilas info, satu kedipan. Lyric lagu nya rada memelas: Satu Jam Saja.
Rupa-rupa polah manusia. Azasi-nya, manusia dirancang dengan kebutuhan yang sedikit saja. Adapun yang banyak itu hanyalah keinginan.
Angan-angan pun sering kepanjangan. Susah sendiri dibuatnya, da bongan hayang. Jadinya, cuplikan jahanam dijawelnya kendati masih di dunia.
Bagai mendekati api unggun, makin panas, makin panas dan terbakar akhirnya.
Kebalikannya, manusia yang cukup hatinya, berjalan diatas kehendak Alloh, cuplikan Firdaus dienyam di dunia juga.
Bagai mendaki gunung, striving a little bit hardship & slow, but makin keatas makin sejuk.
Amal-amalnya: Jadi pahala yang nunggu dan siap menjemput di akherat. Dan jadi keberkahan berupa manisnya dunia ini, ya sekarang ini.
Manusia, sang vertebrata. Yang nyebut zoon politikon, ada. Tercipta dengan sebaik-baik bentuk.
Akal, hati, yang membentuk iman dan melahirkan amal, akan menjadikannya sanggup melampaui derajat para malaikat sekalipun.
Kebalikannya, manusia bisa lebih hina dina dari fauna tertentu. Kelakuan si Kucing Garong, contohnya.
Mungkin tidak punya malu, tapi jelas kemaluan ada. Malu ga diurus, kemaluan di-abur wae.
Setiap waktu para manusia bergelut dengan kepelikannya masing-masing. Orang bercerita tentang pengalaman yang memedihkan di masa lalu, masa kini.
Mengira didepan sana; pekan depan, bulan depan, tahun depan, kepedihan tak ada lagi. Manusia memang mahluk mengeluh.
Sepanjang manusia masih berlalu-lintas di planet ini, roh membungkus setiap atom di tubuhnya, hayat ada dikandung badan,
dan nyawa masih bersenyawa dengan jasadnya yang dari lempung. Maka manusia yang serumpun dengan genteng ini, setiap detik jelas menghadapi test case.
Di dunia ini, yang kekal adalah ujian. Ada dimana manusia ketika itu? Ada dalam sangka baik seraya mengamalkannya atau sebaliknya. Amalan disini akan jadi KTP-nya di alam sana.
Tanya orang Makasar, biasanya mereka cinta laut. Di dunia ini semua beredar dan bergulir bagai cuaca di laut, setiap saat bisa berubah dramatis.
Dalam tiap transisi, manusia yang para pelaut diuji, mampu melalui atau tidak.
Berakit-rakit ke hulu atau kecebur di laut. Yang lantas terseret hanyut bersama ombak, untuk kemudian berenang-renang ke tepian lain.
Fei Huan – pendeta Buddha yang ikut dalam pelayaran damai Cheng Ho yang muslim, selalu mengingatkan para ABK-nya dengan kalimat paling lestari di China. “Siapa yang menyakiti T’ien, dengan sendirinya tidak memiliki alamat kepada siapa manusia harus memanjatkan do’a.”
Manusia tidak pantas berburuk sangka, terlebih kepada Alloh, manager terbaik. Tragedi dan bencana bisa hanya penamaan dari persepsi manusia, belaka.
Dan sungguh, manusia tidak bisa bersandar pada sesuatu yang sifatnya relative.
Yang mati lemas terbungkus longsor, atau ketiban kapal motor di Ulele, padahal ketika itu ia sedang beramal soleh.
Itulah namanya ‘Sengsara Membawa Nikmat’, amalnya diterima sorga, bahagianya luar biasa dan non-stop.
Qur’an mengisahkan siapa yang digagalkan Alloh, siapa yang di tolong Alloh. Semua orang lahir Islam.
Yang ditolong Alloh via kudrotulloh bukan orang Islam, melainkan orang Iman.
Manusia memiliki sejarah. Yang hidup hari ini merupakan kelanjutan dari kehidupan masa silam dan tidak lepas dari kehidupan masa-masa mendatang.
Kelahiran, bagai antrian, nomornya urut – maksudnya ga mungkin lahir adik dulu kemudian kakak. kematian, bagai arisan, nomornya cabut.
Kemanusiaan jadi sangat berarti justru di saat melepas sesamanya bertransformasi ke fase arwah.
Bantu ikut melengserkan, membuka dikit kain di bagian wajah, dan mengganjelnya biar mayit ngiblat, lebih baik lagi.
Maksudnya, biar manusia pintar, dan buat persiapan. Karena manusia bodoh adalah yang dalam sehari tak sekali pun ingat bahwa ia bakal expired. Bahwa jam di tangannya sedang counting down his own life time.
Kemanusiaan juga justru sangat berarti ketika dibahas dalam domain agama. makanya pembahasan mengenai manusia senantiasa melibatkan agama.
Diluar agama manusia harus rela dianggap sebagai makhluk yang sedang terus berevolusi menuju fase yang entah akan berwujud seperti apa lagi.
Bukan karena merasa keberatan dikatakan sebagai turunan sejenis primata, tapi manusia perlu belajar iman pada kitab sucinya.
Manusia, karya terbaik Alloh, dibikin langsung dengan “tangan-Nya” sementara seluruh alam hanya dengan seruan “kun.”
Satu diantara perbedaan Islam dengan keyakinan lain ada pada peri hidup pasca ajal. Islam beri tau nama-nama alam. Islam mem-break down kejadian-kejadiannya in details.
Apa, bagaimana, bilamana. Juga causa prima kedudukan dan kehidupan manusia dalam masing-masing fase: Ruh, Rahim, Dunia,
Barzah, Kiamat, Senyap, Mahsyar, Mizan, Sirath, Telaga Kautsar, level-level dalam Jannah, tingkat-tingkat dalam Narr.
Bukan Hitler, bukan Sukarno. Orator ulung tetep Rosululloh s.a.w. Yang bila menceritakan azab kubur, pundak-pundak para sahabat r.anhum nempel ke kuping.
Bagaimana tidak? Kubur baik, alam selanjutnya better and better. Vise versa, bila kubur bagai lobang neraka, alam selanjutnya bakal worst and worst.
Juga ketika nabi s.a.w melukiskan semlohay nya para bidadari super sahwat, esoknya para sahabat pada mandi janabat.
Sorry, itu tadi Islam banget, rada hi-tens.
Pembaca non-muslim jelas toleran dan tak hendak merobah tatanan koncoisme. Particularly karo aku, All right? Please, let it be, and keep it that way. If you love me, set me free, will you?
Pandangan dari keyakinan lain saya belum banyak belajar.
Beberapa negara Eropa dan beberapa States di USA, membolehkan bunuh diri in several terms and conditions.
Di Jepang ada suntik mati rasa cherry, Strawberry, Mint, dsb. Entah apa the idea behind, barangkali berdasar expectations dalam reinkarnasinya.
Siapa tau di kehidupan nanti menjadi Kaisar, titisan dewa matahari. Membangkitkan semangat Bushido, membangun ke shogun-an, mendidik samurai yang siap melakukan seppuku, dilayani para geisha, dan bobo dikelonin ratusan selir dengan usia rata-rata 19-23 tahun.
Malang betul manusia yang dalam hidupnya tak pernah jatuh cinta –jacin beneran. Sama getir dan pilunya saat melihat manusia lain yang tanpa lengan dan kaki.
Padahal dengan modal cinta – yang itupun dari-Nya, rahasia paling indah bisa diintip. Kemudian menetaskan ilham peri hidup kini, semua dan segala.
Sedang ragu adalah bahasa akal. lawan dari cinta yang bahasa hati. Demikian cinta ditimbang dan pikir-pikir. Cinta akan selalu kehilangan sejatinya sebagai perasaan. Yang akhirnya kehilangan fungsi.
Yang berguna sebagai starter dalam memahami Alloh almighty, Rosululloh yang peaceful dan agama-Nya yang customized. Demi kebahagian saat ini juga, setiap hari and 4 ever.