Bandung, Parisj Van Java

Posted in ST-3 Forum on 7 Januari 2009 by Duddy Setiadi

Saya mengucapkan: “Selamat berganti  angka ke 2009”
Monggoo…..

Tersebutlah pita trasport ‘Anyer-Panarukan’. Istilah populer sekarang: Pantura. Sejak dibentangkannya, jalan raya lintas provinsi itu hanya sedikit tambah lebar.   Belum lebih aman, terlebih nyaman. Yang pernah jatuh cinta disitu hanya seorang, namanya: Sheila Madjid, itupun hanya ‘Antara Anyer dan Jakarta’.

Di hinterland ada Bandung. Sebuah kota yang awalnya tidak dirancang menjadi metropolitan. Dulunya buat belajar. Dewi Sartika membuat ‘Sakola Kautamaan Istri’ , 1914.   Pengusaha kebon teh Belanda, bikin ITB, 1920, dan lain lain. Jalanan di kotanya kecil-kecil, banyak perempatan, dikit-dikit setopan.

Kota-kota satelit mengitarinya. Bandung pun administratively, telah dimekarkan lagi dan lagi. Pusat perbelanjaan dan keramaian di tiap wilayah ada, tapi radius Alun-Alun Bandung tetep mangrupa magnet yang diserbu saban hari.   Entah karena sarana dan moda angkutan yang komplit, atau hal lain. Tampaknya urusan pasar tidak mudah di-otda-kan.

Penduduknya punya laju beranak-pinak tinggi. ABG menyusui balita, banyak. Remaja menggendong orok sembari menuntun anaknya yang TK, ga kurang. Lihat saja di kantong-kantong padat pemukiman. Satu diantaranya seputar ST-3.

Di Sidoarjo, yang melimpah dan meruah ya jelas lumpur. Di Bandung naon? Budak leutik, lalu anak bulu kumu’ut sampe bujangan gumasep.   Orang tuanya memodali motor buat sekolah biar anak sigap. Eee….malah di preteli knalpotnya, katanya ngemodif. Demi berkontribusi pada kebisingan kota, dan membangun sifat teu boga ka era.

Yang nurus tunjung, eitt…jangan salah….Manusia dewasa pun tak kalah edun dan marak dibanding adik-adiknya.
Muffler gas buang yang built in nya ber-silencer itu, diboboknya. Padahal kan, makin halus bunyi kendaraan, makin ciamik.

Dulu ‘Berhiber’ sekarang ‘Bermartabat’. Itu baru slogannya. Meski lampu jalan banyak yang off kalo malem, termasuk di land mark nya, jalan layang Pasupati.    Pemkot, dprd, dan rengrengannya. Eksekutif, legislatif dan yudikatif. Telah sepakat, setali tiga uang. Untuk tetep niat, tekad, dan nekad menjadikan kota ini sebagai:’Tourist Destination’.

Bandung Parisj van Java. Di Paris ada Eiffel tower, di Bandung ada 800-an menara BTS, bisa imbanglah and wani keneh ngadu, so they don’t see why not.

Untungnya, para pelancong jarang liwat kolong fly-over Cimindi, dan Kircon. Langka seliweran di Tegallega dan ruas Ciroyom-Garuda.   Apalagi Kopo Sayati yang – masya Alloh – sisi jalannya nyaring oleh dentuman dan lengkingan dari demo dan promo dvd bajakan.  Seingat saya, dalam itungan 25-30 tahunan terakhir, belum beranjak dari keruwetan menjadi ketertiban.

Ok, beberapa hal diatas tidak hanya terjadi di Bandung. Di kota-kota Jabodetabek pun ada area-area serupa, si-kon nya sebelas dua belas.   Disini kita belum bicara mengenai tatanan yang seharusnya, sewajarnya, seyogyanya. Termasuk tepo seliro, dan norma umum.   Kita sedang bicara dari contoh day the day events di ruang public Bandung apa adanya, yang biasa membuat orang banyak tertekan.

Gagasan kota wisata, positif. Mengapa? Tourism mendatangkan devisa langsung. Demikian wisman landing, segera beli rupiah lantaran kudu naek taksi.   Kemudian dijalan lihat cengkir dan manggis, yang eye catching. Karena ga kuat nahan lagi, akhirnya beli deh. Pake rupiah.   Devisa dari pariwisata, langsung dinikmati oleh orang-orang grassroot macam kita. Kalo bukan ‘kita’ ya saya lah…

Tidak seperti devisa dari migas, kayu lapis, TPT dsb, yang muter-muter dulu. Sebagian pengusaha menggolangkan hasil ekspornya di S’pore, pan judulna ge ‘Sorga Bagi Para Investor’.   Demikian pula devisa yang diraih negara, pasti kukurilingan heula. Penyebab lambatnya adalah hal administrative dan birokrasi.   Jadi, devisa akan melalui banyak polisi tidur sebelum sampai pada yang berhak. Rakyat mah dari APBN ajah, melalui spending-nya.

Wisman avonturier kadang tak sungkan join ama wisdom. Jol-jol meuli cilok, cireng, cimol, gehu, bala-bala, pisang aroma atau cakue- nu bangsa urang mah, ngadaharna sok bari jeung cingogo tea.    Ada yang cuma nyicipin, ada yang jadi keranjingan. Si bule yang penasaran bilang:”Do what Indonesian do.”    Pelancong local bilang:”Ni dia kuliner Bandung.” Murah, asal wareg dan bebas maag. Pokoknya karbohidrat, sumber energy. Di NTB juga, kambing makan kardus hidup sehat penuh vitalitas.

Selanjutnya. Dagang tourism dipahami cash and carry. Sorry pada supplier obat yang sering ngutangin barang lantas riweuh dalam urusan Term of Payment.   Biasanya dalam kasus ga nyambungnya amount pembayaran dengan dollar hari ini. Rada-rada simalakama, ga ngasih, ya ga ngomset.   Bisa bo-cuan alias plus-plos, untung ipis, bo-hwat tapi demi jaga hopeng, bahkan bukannya untung malah jeblok.

Melalui tourism, sebagian rakyat jadi mengenal rupanya uang asing. Sering dijumpai mata uang asing sebagai bahan koleksi pribadi yang disimpan rapi, tanda mata persahabatan.     Tourism membuat masyarakat jadi dual, hingga multi culture. Ajang saling mengenal budaya dan nilai. Dalam frame antar diri maupun antar masyarakat.   Bisa dipake sarana latihan English atau bahasa asing lainnya dari native. Daripada ikut kursus mahal, sekurang-kurangnya ‘litel-litel mah ay ken’ lah.

Dalam hal tourism, Bandung atau Jabar masih belajar pada tahap awal, tidak seperti Bali yang sudah advance dan berkelas dunia.    Lepas dari controversy-nya, tourism dapat memicu upaya berbenah diri masyarakat dan individu. Jadi ‘dipaksa’ belajar terus, to make everything in-order.   Termasuk memfungsikan jembatan penyebrangan daripada hanya sekedar tempat nempelin billboard. Membudayakan penggunaan zebra cross yang tentu lebih murah, dan menambahnya.

Dulu taun 80-90an, kalo masuk Agustus di Bandung turis banyak sekali – pengertian turis disini tidak mesti bule lho.    Sekarang ko jarang. Analisa sebab-akibat yang resmi bukan urusan saya. Disini hanya memuat ungkapan saya saja.

Wisman, picnic kesini bukan untuk gogoleran in the hotel room. Night clubbing, reading, swimming, and f..king, selingan saja, bukan tujuan utama.   Mereka tidak hanya baca peta terus belanja barang-barang yang akan jadi sampah.
Keinginan mereka lebih pada exploring Bandung and it’s surrounding, masuk ke perkampungan, kebon dan sawahnya.   Kalo cape ya ngaso-nya nyeruput teh tubruk sambil makan beuleum ketan seperti di jalan Lembang-Ciater.   Demikian pula kita kalo bepergian ke mancanegara atau new places. Barang yang ada di pasar baru pan ga akan kita beli lagi disana. Back packer juga begitu.

Kalo situasinya seperti sekarang ya apa yang akan ditawarkan? Ke Saung Angklung Mang Udjo yang fenomenal saja di Padasuka-Caheum. Suasana jalan dalam route-nya meuni anjrit pisan.

Untuk 2 kawan saya (dari ST-3) yang naga-naganya, lagi ngincer posisi di legislative daerah. Issues diatas dapatlah kiranya dijadikan bahan buat koar-koar.   Ga canggih sih, berilah contoh pelan-pelan saja – supaya teu kaciri teuing harot-na. Coba ajak sodara-sodara kita untuk mengembangkan sikap sederhana seperti santun di ruang public.

Sekarang memang tampak omong kosong. Namun, suatu waktu ketika memutuskan untuk mewujudkan kata-kata menjadi perbuatan maka percayalah,  omong kosong akan berubah menjadi omongan berisi. Terlebih penting adalah peluang ente terpilih jadi anggota dewan, jadi lebih besar. Sok geura, bismillah.

Satu

Posted in ST-3 Forum on 10 Maret 2009 by Duddy Setiadi

Ekonomi Amerika Serikat sedang sial. Asalnya dari satu tempat, New York City. Poros putaran roda bisnis dan industri, Big Apple. As dan jari-jarinya terhubung ke banyak sektor barang dan jasa, di banyak negara. Dia pusat aksi, setiap saat mengirim sinyal merata pada penghuni bumi. Satu detik getaran disana, sedetik kemudian ramai disini, menyelaraskan frekuensi. Efeknya bereaksi cepat, merasuki tubuh banyak negri. Betapa menakjubkan dan mengherankan. Sekarang, justru kesialannya itu jadi keapesan bersama, sengsara berjamaah.

Indonesia terkena gelombang kejutnya, oleng. Tak hanya terasa di kota-kota besar, juga di desa-desa. Orang-orang kota, memiliki beragam usaha di desa atau pinggir kota. Kiprah mereka, umumnya produsen aneka barang. Pabrik, bentuk investasi yang ditanam disitu. Dari gudang-gudang barang jadinya, keluarlah komoditi-komoditi.

Mereka – para penduduk desa – larut dalam pekerjaan di banyak jenis Perusahaan Terbatas, sebagai operator. Pelaksana sehari-hari langsung di lini produksi. Jarang diantara mereka dipercaya mengurusi administrasi, apalagi keuangan. Kenyataan yang terpatri, bukan issue.

Sebelum krisis, pabrik-pabrik beroperasi siang malam, tujuh hari seminggu. Pekerjaan demi pekerjaan berlangsung setahun penuh. Terhenti total hanya libur lebaran. Hari libur lain bagi karyawan hanya cuti tahunan. Cuti, tentu tidak mengakibatkan pabrik berhenti beroperasi. Masing-masing secara bergilir mendapat dua belas hari bebas dalam setahun. Ada pula diantara mereka, menukar jatah hari cutinya dengan uang.

Bagian pemasaran, ujung tombak. Mereka telah menuntaskan pekerjaan pada tahun yang sedang berjalan. Orang-orang marketing itu bagai para pemancing ulung. Mereka telah membukukan sejumlah order besar untuk garapan di tahun berikut.

Tak main-main, ekspor berbagai produk terus menerus dilakukan. Satu, dua, tiga tahun kedepan. Bahkan lebih. Kapasitas produksi berfungsi penuh, berlari di kecepatan tinggi. Pabrik-pabrik full order, efisiensi mesin nyaris seratus persen. Waktu itu, Pemerintah menghawatirkan mesin ekonomi over-heated.

Saat pergantian shift, menandai aktivitas pabrik-pabrik beroperasi dua puluh empat jam. Arus lalu lintas, dipadati oleh hilir-mudik kendaraan. Dari jenis-jenis kendaraan kecil hingga bis-bis, sibuk melayani antar-jemput karyawan. Jalanan desa Batujajar, Leuwigajah, Nanjung, Majalaya, Ranca ekek. Ramai oleh lalu-lalang penduduk berseragam. Dinamika mereka yang pergi-pulang bekerja.

Lampu-lampu halaman, kantor-kantor dan ruangan-ruangan pabrik. Memancarkan cahaya di malam hari. Landmark kota dalam ‘New Industrial Country’. Namun, fisik jalan yang hancur seperti lumrah di setiap kompleks industri.

Memasuki krisis, Order-order banyak ditunda dan batal. Pabrik-pabrik mulai mengurangi jam kerja. Penyusutan jumlah karyawan tak terelakkan. Pemasar mulai membidik pasar lokal. Itupun berat, tak kuat bersaing melawan luapan produk impor.

Dalam waktu singkat, kawasan pabrik menjadi gelap. Kadang cahaya bulan saja sedikit menerangi. Cahaya lembut itu menimpa alang-alang jangkung, lantas membayang hitam pada dinding-dinding bangunan yang menjadi gudang besar.

Tak ada lagi jam-jam sibuk. Polisi dan DLLAJR di kawasan industri, lebih relax sekarang. Fisik jalan lebih mulus dan relatif awet. Seiring berkurang laju dan riuhnya truk-truk kontainer. Moda transport ulang-alik : Pabrik-Terminal Peti Kemas Gede Bage-Pelabuhan tongkang Tanjung Priok.

Kesibukan yang dahulu jadi penanda waktu bagi masyarakat sekitar, kini tinggal dongeng. Suasana jalan dan kawasan sepi, tak ada denyut setelah magrib. Pengusaha warung-warung nasi dan kamar-kamar kontrakan, hanya bisa ikut mengurut dada.

Tukang ojeg dan sopir-sopir angkot, lebih mengandalkan konsumen anak-anak yang pergi-pulang sekolah. Keluhan rutin merebak diantara mereka, saat liburan anak-anak tiba. Mengganti trayek sama dengan membanting stir. Tak sedikit biaya yang mesti dikeluarkan untuk keperluan itu.

Bisnis angkutan di masa paceklik berarti tak mengharap banyak dari setoran. Bangku-bangku angkot sering kosong. Hanya nampak lebih terisi, ketika mengantar ibu-ibu ke pasar . Sekali sebulan di tanggal muda, bangku itu diduduki sebagian warga mantan PNS. Yang pergi mengambil uang pensiun di BRI cabang terdekat.

Mereka – para buruh, belum sempat memahami hal-ihwal keadaan. Suasana yang tak menentu ujung pangkalnya ini, keburu melabraknya dalam tempo lebih cepat dan hebat daripada langkah antisipasi yang pantas diambil.

Krisis telah menyergap mereka, para buruh yang hanya tahu bekerja. Krisis telah memaksa mereka, menghadapi rentetan keputusan bertahap atau drastis atas nasibnya. Berupa pemutusan hubungan kerja. Tentu saja melalui keputusan sepihak.

Mereka sebelumnya telah mendengar desas-desus. Beberapa hari-minggu berselang, orang-orang kantoran lantas buat pengumuman. Nama mereka dicantumkan dalam kolom suatu tabel, judulnya : “ Dibawah ini adalah nama-nama karyawan yang mulai awal bulan depan dirumahkan”.

Mereka mengira, kekisruhan ini gejolak sementara. Harapan masih penuh, tetap baik sangka. Percaya bahwa keadaan bakal pulih pada sediakala. Orang kantor itu berkata : “Kebijakan ini harap dipandang bukan musibah, semoga esok lebih baik.” Lewat sudah masa kaget.

Mereka menangkap kesan, hal ini hanya insidentil. Seperti pemadaman bergilir oleh PLN. Toh, tanda tanya muncul juga, mendesak di benak. Namun hanya batin yang bicara : “Siapa lagi ya, orang-orang yang akan dirumahkan bulan berikut?”

Kenyataannya, situasi- kondisi demikian terus berlanjut dan hanya semakin mengambang. Para buruh yang bertanya, mendapatkan jawaban ping-pong. Petikan kata-kata pengusaha, pengelola dan pegawai administrasi, dirasanya simpang siur. Perumpamaan mereka bahwa ini seperti banjir kiriman yang tak lama akan surut, pupus sudah. Terkesiaplah mereka, mimpi buruk baru mulai.

Yana seorang karyawan, bercerita pada kawannya, Tatang. Mengenai satu mimpi dalam tidurnya yang tak ngantuk : “ Suasana dan keadaan telah berubah bagai banjir bandang, menghanyutkan padi-padian dan palawija. Banjir yang mengakibatkan seluruh tanaman tercabut dari hektaran sawah dan kebun-kebun.”

Setelah merasa mendapat perhatian dari kawannya, Yana melanjutkan gambaran kisah bunga tidurnya : “ Arus itu demikian kuat, Tang. Hingga mampu merobohkan kandang-kandang, berikut ternak-ternak gemuk yang terpelihara didalamnya. Bahkan menjebol pintu air dan seluruh jaringan irigasi. ”

Kawan-kawan buruhnya mendekat. Ada pula yang sekedar memasang kuping, ikut menyimak. Lanjutnya : “Akhirnya ‘banjir bandang’ itu menyentuh bagian yang lebih pribadi. Menghanyutkan, merobohkan, sekaligus merendam kavling yang lazim disebut identitas alamat. Itulah tempat tinggal kita, tempat bernaung. Tempat itu menjadi mantan rumah.”

Yana diam sesaat, menghela nafas. Lalu : “Kesemrawutan bagai luapan air bah itu, sekaligus menenggelamkan keluarga kita. Banyak diantara kita jadi mantan suami. Ya, mantan ayah. Dia, seorang lelaki yang esoknya berjalan gontai menerima kalah. Tertunduk pergi meninggalkan puing-puing yang pernah disebut rumah tangga”.

Tatang menanggapi :”Ah, itu mendramatisir. Berharaplah yang terbaik, Yan.” Yana hanya mengangguk dan mengangkat bahu.

Kata ‘dirumahkan’ terbukti hanya ungkapan halus dari kata ‘dipecat’. Juga bermaksud agar pemilik dan pengelola pabrik memiliki keleluasaan waktu dan gerak untuk menghindar diri sementara dari para penuntut pesangon.

Pemilik menghadapi resiko. Bila memungkinkan dan memang ada kesempatan didalam kesempitan. Upaya menghindar itu tak perlu dilakukan sebagai langkah sementara. Sebisa-bisa terus saja menyelinap kedalam setiap celah. Lubang jarum yang tampak di sebelah sini harus segera disusupi. Agar segera lolos darinya dan bisa langsung menguap di sebelah sana. Cuci tangan, bebas lepas.

Semua pegawai melewati masa percobaan tiga bulan pertama atau setahun pertama. Seorang pekerja setelah melewati masa itu, akan meningkat statusnya menjadi karyawan tetap. Dicarinya celah-celah hukum, ditelaahnya tatanan – tatanan. Apapun yang bisa mendasari kemungkinan perubahan beberapa kesepakatan. Apa yang diharapkannnya? Tak hanya buruh di lini produksi, para staff pun harus mundur, atau disepak sekalian.

Pengusaha yang terlanjur susah mengelak, mengasah kecerdikan. Waktu mengambang tersebut, dimanfaatkannya untuk mengotak-ngatik isi perjanjian kerja. Mengubah status hubungan pengusaha – buruh kedalam konteks yang lebih fleksibel : sistem kerja kontrak.

Dulu, status karyawan tetap berarti melekatnya berbagai fasilitas yang bisa diakses dan dinikmati. Sejak pakaian seragam – simbol pengakuan, status sosial dan kemapanan. Hingga tunjangan kesehatan. Juga mulai mendapat ilustrasi untuk pembiayaan ringan mencicil rumah dan kendaraan. Ada jaminan sosial tenaga kerja, polis berbagai asuransi hingga pengaturan dana pensiun.

Saat itu, bank-bank begitu merendahkan diri, agar uang di brangkasnya terbagikan ke banyak nasabah karyawan. Banyak karyawan bagian staff, dapat kemudahan menikmati fasilitas kartu kredit dari hampir semua bank. Silver, gold hingga platinum.

Suatu ketika itu, semua bisa diatur. Begitulah apabila bisnis dan industri sedang dalam periode marak. Namun kini, kecerdikan pengusaha yang dipertajam bisikan para penasihat hukumnya. Telah menyulap status mereka jadi semacam jaring yang menangkapi rupa-rupa kesialan.

Seorang petugas satpam Sutarjo, 55 tahun. Posisinya masih dipertahankan perusahaan. Sore itu, dia duduk santai di pos-nya sambil menonton diskusi ekonomi dalam satu dialog TV, kutipannya : “Bila krisis datang melanda, ia tak pernah menunggu moment, ia tak kenal kompromi, ia tak mendengar protes. Bersikap sentimentil saat krisis datang menerjang, adalah tidak pantas dan memang tidak pas.”

Usai dialog TV itu, pandang mata Sutarjo menerawang. Meneliti kenyataan di sekitar. Sutarjo merenungkan nasib karyawan perusahaan di tempatnya bekerja. Para karyawan itu, ada yang di tengah masa mencicil rumah dan kendaraan. Termasuk ada diantara mereka yang malah mengeluh, setelah terlanjur menambah jumlah anak. Sampai disitu Sutarjo hanya cengar-cengir.

Sutarjo melanjutkan renungannya pada kejadian-kejadian terkini yang menimpa para karyawan. Kejadian yang sempat didengarnya. Tak sedikit dari mereka yang terlanjur berhutang pada bank. Setelah bank membayari belanjaan mereka atas barang – barang konsumtif.

Benda-benda itu telah merayu mereka, agar mengeluarkan kartu yang terselip di dompetnya. Entah rayuan yang kuat, atau pendirian yang lemah. Kartu itu, akhirnya digesekkan juga ke alat on-line di counter kasir suatu mall.

Kartu terbitan bank, kartu yang tak pernah dimilikinya, kartu yang tadinya merupakan simbol bonafiditas. Puas merenung, Sutarjo meludah sebal sambil beringsut dari kursinya. Berjalan kedepan, menuju pintu gerbang.

Ketika melilitkan rantai di gerbang besi. Sutarjo disapa oleh Deden 33 tahun, seorang mantan salesman yang tengah giat membangun usaha kecilnya. Setelah basa-basi mengenai cuaca, saling menanyakan kabar keluarga dan mengutuk bisingnya knalpot sepeda motor. Pembicaraan pun beralih. Deden mendengar Sutarjo membahas perihal yang tengah hangat. Hal yang melanda industri, termasuk tempatnya bekerja.

Menanggapi cerita Sutarjo, Deden menambahkan : “ Keterlanjuran disebut juga kebablasan. Akibat perubahan pola dan gaya hidup seorang yang menyandang status karyawan tetap. Status yang disangkanya representasi dari kemapanan, keterjaminan. Kebablasan itu berawal dari terbentuknya sifat.” Deden menghentikan bicaranya. Sutarjo ternyata masih menyimak dan meminta Deden melanjutkan saja.

“Sifat yang tertular dari mereka yang terbiasa pada mudahnya meng-akses uang. Sifat pada kesenangan atas barang-barang konsumtif. Sifat para pemilik modal. Sifat bosnya. Konsumerisme, satu selokan dari sungai materialisme. Sifat itu melahirkan drama panjang.”

Pak satpam meminjam korek api, menyalakan rokoknya. Kemudian mempersilakan Deden meneruskan percakapannya : “Konsekuensi itu bakal serasa tanpa ujung. Kehilangan pekerjaan ternyata bukan akhir dari krisis. Keadaan lantas berbuntut pada hadirnya mesin-mesin penuntut tanggung jawab, yang datang ke rumah tanpa undangan : Debt collectors.”

“Gempa yang ber-episentrum di Amerika sana, amukan gelombangnya terasa sudah disini. Meluluh lantakkan tatanan, membongkar akar.” Deden terdiam, menunggu tanggapan Sutarjo.

Dan memang Sutajo ingin menimpali, katanya : “ Terjangan gelombang itu telah menghantam keras, tak hanya terhadap mereka para pemilik modal. Sudah tentu, menghantam mereka yang biasa menggantungkan harapan penghidupan, melalui pengabdian di perusahaan-perusahaan.”

Deden meng-amini, lalu berkata : “Bagaimanapun keadaan, selalu ada diantara mereka yang beruntung – siapapun itu. Mereka adalah para pihak yang sadar. Sadar bahwa segala keputusan membawa konsekuensi dan resiko. Berusaha ada bangkrutnya, bekerja ada masanya.”

Sutarjo mengangguk dan tersenyum, lalu sambutnya : “Mendapat cipratan berkah adalah satu hal saja. Ada hal lain yang tidak mustahil, Den.” Deden menunggu pensiunan Angkatan Darat itu menumpahkan pendapatnya. Sambungnya : “Yaitu terkena cipratan granat.”

Mereka tertawa, sebelum pamitan, Deden menutup obrolan itu, katanya : “Para pihak itu, pengusaha, karyawan staff, buruh. Tak bebas dari kemungkinan tersandung batu yang berserakan. Batu bagai ranjau yang tersebar dalam petak halaman hidup. Ranjau darat, batu ujian. “

Deden tersenyum dan melambaikan tangan. Sutarjo membalas salam sambil menggerendel gerbang. Kemudian berjalan tegap kembali ke pos-nya. Menjaga malam, mengantisipasi pagi.

(to be continued)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.